Translate

PEDANG


Pedang adalah sejenis senjata tajam yang memiliki bilah panjang. Pedang dapat memiliki dua sisi tajam atau hanya satu sisi tajam saja. Di beberapa kebudayaan jika dibandingkan senjata lainnya pedang biasanya memiliki prestise lebih atau paling tinggi.
Bilah pedang biasanya dibuat dari logam keras seperti besi atau baja. Meski begitu terdapat pedang dari emas yang digunakan sebagai hiasan saja. Untuk latihan biasanya pedang kayu yang digunakan, meski pedang dari kayu keras masih berbahaya. Senjata serupa pedang dan tombak yang menggunakan bilah obsidian digunakan oleh suku-suku asli amerika tengah dan selatan yang pada saat kolonisasi Eropa belum mengenal logam.

Sejarah Pedang

Zaman Perunggu

Manusia telah membuat dan menggunakan senjata berpedang dari mulai zaman perunggu. Pedang yang dikembangkan dari belati ketika pembuatan pedang menjadi mungkin, sekitar 2 milenium sebelum masehi. Pedang berukuran lebih dari 1,5 meter dan sangat tidak biasa dan tidak digunakkan saat masa-masa zaman perunggu karena panjangnya mengurangi keampuhan dari perunggu. Tidak sampai logam yang lebih kuat seperti baja, menjadikan pedang panjang digunakan dalam pertempuran. khopes yang hanya berukuran 50 s/d 60cm terbuat dari perunggu juga.
Bagian gagang pedang pada mulanya memungkinkan cengkraman yang kuat, dan mencegah kemungkinan tangan terpeleset ketika melakukan tusukan kearah target. Pedang zaman perunggu pertama kali muncul dengan bentuk seperti daun di sekitar laut tengah dan laut hitam, dan di Mesoppotamia. Pedang dari zaman perunggu nordic sekitar 1400 SM menunjukkan karakteristik pola spiral. Produksi pedang di china dimulai dari zaman Dinasti Shang.

Zaman Besi

Pedang besi mengalami kenaikan penggunaan pada abad 13 SM. Bangsa Hittie, Myceania, Yunani, dan Proto-Celtic Halstatt memiliki kebudayaan yang memiliki kaitan dengan penggunaan awal pedang besi. Besi memiliki kelebihan dalam produksi massal dengan ketersediaan bajan baku yang banyak. Pedang besi pada masa awal tidak bisa dibandingkan dengan pedang baja masa sekarang; lebih lunak dan rapuh, ini bahkan lebih jelek daripada pedang perunggu yang bgus kualitasnya, tetapi dengan produksi yang lebih mudah, ketersediaan bahan baku membuat seluruh pasukan dapat menggunakan senjata logam, walaupun pasukan mesir pada zaman perunggu sudah melengkapi pasukkannya dengan senjata perunggu.
Kemudian para penempa mempelajari bahwa menambahkan sejumlah karbon ( dimasukkan pada saat peleburan dalam bentuk bebatuan ) kedalam besi, mereka dapat membuat logam yang lebih baik ( sekarang dikenal dengan sebutan "besi baja" ). Beberapa metode yang berbeda dalam pembuatan pedang telah ada dalam masa lalu, termasuk, yang paling terkenal, pembentukan pola. Selanjutnya, metode yang berbeda berkembang di seluruh dunia.
Ketika memasuki zaman klasik antik dan bangsa Parthia dan Sassanid di Iran, pedang besi sudah menjadi umum. Xiphos dari yunani dan Gladius dari Romawi adalah contoh sejenis, memiliki panjang 60-70 cm. Kekaisaran Roma akhir memprkenalkan Spatha yang lebih panjang ( istilah untuk pemakainya, spatharius, menjadi pangkat kerajaan di Konstantinopel ), dan mulai saat itu, istilah "pedang panjang" dialamatkan pada pedang yang termasuk panjang dalam periode ini.
Pedang baja China muncul pada masa abad ke 3 SM Dinasti Qin. Dao dari china ( piyin dāo )adalah pedang bermata satu, kadang-kadang diterjemahkan sebagai sabre atau broadsword, dan Jian ( piyin jiān ) bermata dua.

Zaman Pertengahan

Pedang spatha menjadi populer selama periode migrasi dan juga di abad pertengahan. Spatha Zaman Vendel didekorasi dengan hiasan Jerman. Zaman Viking terlihat kembali adanya produksi yang lebih terstandarisasi, tapi desain awalnya tetap berdasarkan spatha.
Abad ke 11 dimana pedang Norman mulai dikembangkan Quillons atau Crossguard ( pelindung silang ). Selama perang salib pada abad ke 12 sampai abad ke 13, peding berbentuk salib ini menjadi lebih stabil, dengan variasi pada gagangnya saja. Pedang-pedang ini didesain sebagai pedang pemotong, walaupun poin-poin efektif menjadi umum untuk meng-counter peningkatan kualitas zirah. Pedang bermata tunggal menjadi populer di dataran Asia. Dikembangkan dari Dao China, hwandudaedo dari korea telah dikenal pada masa awal Zaman Tiga Negara. Katana Jepang ( 刀; かたな ), telah diproduksi dari masa sekitar 900 masehi, juga dikembangkan dari dao.

Zaman Pertengahan Akhir dan Renaissance

Dari sekitar tahun 1300, dengan semakin tebal dan bagus produksi zirah, desain pedang terus berevolusi dengan cepat. Transisi utamanya ialah perpanjangan gagang pedang, memungkinkan penggunaan dua tangan, dan mata pedang yang lebih panjang. Pada tahun 1400 pedang seperti ini dinamai dengan Langes Schwert ( longsword ) atau pedang panjang atau spadone, telah umum, dan beberapa Fechtbucher pada abad 15 dan 16 menawarkan bagaimana menggunakan pedang tersebut. Varian lain adalah pedang penusuk zirah dengan tipe estoc. Pedang panjang terkenal dengan jangkauan ekstrem dan kemuampuan memotong serta menusuknya. Tipe estoc menjadi terkenal karena kemampuannya untuk menembus gap antara pelat zirah. Pegangannya kadang-kadang dilapisi dengan kabel atau kulit binatang untuk membuat pegangan yang lebih mantap dan membuatnya lebih sulit dijatuhkan dari si pengguna pedang.
Pada abad ke 16, Doppelhander ( disebut Zweihander sekarang ) membuat tren peningkatan ukuran dari pedang, dan zaman modern kembali kepada desain pedang yang ringkas dan ringan dengan penggunaan satu tangan.
Pedang di zaman ini menjadi senjata paling personal, paling prestisius, dan paling mematikan untuk pertempuran jarak dekat, tetapi ditolak dalam penggunaannya oleh militer karena pergantian teknologi peperangan. Bagaimanapun, pedang tetap menjadi peran kunci dalam beladiri sipil.

Zaman Modern

Rapier merupakan evolusi dari espada ropera dari Spanyol sekitar abad ke i6. Baik rapier maupun schiavona dari italia mengubah bentuk crossguard menjadi seperti keranjang untuk perlindungan bagian tangan. Selama abad ke 17 dan 18, pedang pendek yang lebih ringan menjadi bagian esensial dari fashion di negara-negara eropa dan dunia baru, dan orang terkaya dan pejabat militer memilikinya. Baik pedang pendek maupun Rapier menjadi populer sebagai pedang eropa untuk berduel hingga abad ke 18.
Setelah pemakaian pedang ketinggalan zaman, tongkat bantu berjalan ( cane ) menjadi bagian dari pakaian gentelman. Beberapa contohnya ialah pedang tongkat yang memasukkan mata pedang kedalam tongkat untuk menyamarkannya. beladiri la canne dikembangkan untuk bertarung menggunakan tongkat ini dan sekarang berevolusi menjadi olahraga.
Setelah masa penggunaanya telah usai, pedang telah menjadi alat pertahanan diri dibandingkan menjadi perangkat persenjataan di medan perang setelah zaman modern. Bahkan sebilah pedang telah berkurang penggunaanya setelah abad 19, karena kalah praktis dengan handgun(pistol).
Pedang masih digunakan, namun hanya sebatas pada pejabat militer dan seragam upacara kemiliteran saja, walaupun kebanyakan tentara menggunakan kavaleri berat sebelum PD II. Seperti kavaleri inggris yang sudah mendesain unit pedang kavaleri baru, tetapi diganti menjadi kavaleri lapis baja pada masa akhir 1938. Tetapi peperangan menggunakan kavaleri dan pedang masih terjadi di era PD II, ketika tentara Jepang bertempur melawan penduduk pasifik, para penduduk itu masih menggunakan pedang. Tetapi pasukan jepang dengan senjata modern dengan mudah menundukkan para prajurit berpedang itu.

Bagian-Bagian Pedang

Bilah

Bilah pedang adalah bagian penting pedang yang dapat digunakan untuk menyerang. Jenis serangan yang bisa dilakukan dengan bilah itu sendiri, menghantamkannya, menusuk, dan menebas. Oleh karena masing-masing jenis serangan tersebut mensyaratkan bentuk yang berbeda untuk hasil optimal maka bentuk bilah pedang bergantung pada gaya penggunaannya.

Gagang

Gagang pedang adalah bagian untuk memegang pedang. Pada beberapa jenis pedang gagangnya memiliki penahan di atas dan di bagian bawahnya, penahan bagian atas biasanya untuk menahan tangan ketika melakukan serangan.

Jenis-Jenis Pedang

Pedang Bermata Ganda

Peadang bermata ganda banyak digunakan di Tiongkok, Mediterania, dan Skandinavia. Pedang jenis ini memiliki kemampuan sama baiknya untuk menebas dan menusuk. Berikut daftar nama-nama pedang bermata ganda:

Pedang Bermata Tunggal

Pedang bermata tunggal biasanya adalah pedang yang dimaksimalkan untuk fungsi tebasan. Oleh karenanya Xenophon (Prajurit dan sejarawan Yunani kuno) menyarankan kavaleri untuk menggunakan peadang jenis ini (Makhaira) dibandingkan Xiphos.
Pedang bermata tunggal biasanya mempunyai lengkungan, biasanya ke belakang(sisi tajam berada di luar lengkungan), walau ada yang lurus atau memiliki lengkungan ke depan(sisi tajam berada di dalam lengkungan). Kegunaan lengkungan adalah untuk memperlebar lukaan akibat tebasan. Berikut nama-nama pedang bermata tunggal:

Pedang Satu Tangan

Pedang Dua Tangan




Gallery :


 
 


Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
READMORE
 

KATANA

Type : Pedang
Negara Asal : Jepang
Diproduksi : Zaman Muromachi (1392–1573) sampai sekarang
Panjang Bilah : Sekitar 60–73 cm (23.6–28.7 inci)


Katana (刀) adalah pedang panjang Jepang (daitō, 大刀), walaupun di Jepang sendiri ini merujuk pada semua jenis pedang. Katana adalah kunyomi (sebutan Jepang) dari bentuk kanji 刀; sedangkan onyomi (sebutan Hanzi) karakter kanji tersebut adalah tō. Ia merujuk kepada pedang satu mata, melengkung yang khusus yang secara tradisi digunakan oleh samurai Jepang.
Katana biasanya dipasangkan dengan wakizashi atau shōtō, bentuknya mirip tapi dibuat lebih pendek, keduanya dipakai aleh anggota kelas ksatria. Kedua senjata dipakai bersama-sama disebut daishō, dan mewakili kekuatan sosial dan kehormatan pribadi samurai. Pedang panjang dipakai untuk pertempuran terbuka, sementara yang lebih pendek dipakai sebagai senjata sampingan (side arm), lebih cocok untuk menikam, pertempuran jarak dekat, dan seppuku (suatu bentuk ritual bunuh diri).
Katana terutama digunakan untuk memotong,dan diutamakan dipakai dengan dua pegangan tangan. Berbeda dengan kebanyakan pedang dari negara manapun, Katana memiliki cara peletakan yang berbeda pada pinggul pemakainya, tidak seperti pedang lain yang menyandang pedang dengan mata pedang mengarah ke bawah, katana justru sebaliknya, mata pedangnya mengarah ke atas, ini dimaksud untuk mempermudah seorang samurai dalam melakukan aktivitasnya, termasuk sumpah darah, cukup dengan menarik sedikit saja gagang pedang dan menggoreskan ibu jari pada mata pedang. Sementara seni praktis penggunaan pedang untuk tujuannya semula telah usang, kenjutsu dan laijutsu beralih menjadi seni beladiri modern.
Pedang Jepang yang asli sekarang ini adalah barang yang langka, walaupun yang benar-benar antik dapat diperoleh dengan harga yang sangat mahal. Katana dan wakizashi modern hanya dibuat oleh sedikit praktisi berlisensi yang masih membuat kerajinan senjata ini sekarang, meskipun katana "Type 98" juga langka.

JENIS-JENIS PEDANG JEPANG


Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
READMORE
 

TOMBAK



Tombak dan pisau batu yang ditemukan di Taman Nasional Mesa Verde, Amerika Serikat.
Tombak atau lembing adalah senjata yang banyak ditemukan di seluruh peradaban dunia, terutama karena kemudahan pembuatannya dan biaya pembuatannya yang murah. Tombak adalah senjata untuk berburu dan berperang, bagiannya terdiri dari tongkat sebagai pegangan dan mata atau kepala tombak yang tajam dan kadang diperkeras dengan bahan lain. Bersamaan dengan kapak tombak adalah perkakas pertama yang dibuat manusia dan sejalan dengan perkembangan peradaban mata tombak dan kapak yang semula berupa tulang atau batu yang dihaluskan diganti menjadi logam yang lebih kuat dan tahan lama.
Di Indonesia tombak menjadi senjata utama yang banyak digunakan oleh tentara-tentara tradisional nusantara. Ini terutama karena kelangkaan besi dan logam lainnya di Indonesia sehingga sulit untuk membuat pedang. Oleh karena itu senjata yang lebih umum digunakan di Indonesia atau bangsa-bangsa melayu dulu adalah senjata yang menggunakan lebih sedikit besi dibanding pedang yaitu kapak, parang atau golok, dan tombak. Di antara senjata-senjata tadi yang hanya tombak yang digunakan hanya sebagai senjata(termasuk sebagai senjata berburu).
Terdapat sejenis tombak tanpa mata yang sering digunakan oleh milisia di nusantara yaitu bambu runcing yang dibuat dari bambu yang diruncingkan tanpa perkuatan apapun di ujungnya. Untuk menghadapi tentara tradisonal nusantara dan tentara kolonial ini adalah senjata penusuk yang mematikan sebab mereka tidak dilengkapi dengan perlindungan baju zirah.

Sejarah

Penggunaan tombak tidak terbatas pada spesies manusia saja, simpanse dan orangutan adalah spesies kera besar yang tercatat menggunakan alat serupa tombak untuk berburu makanan. Tombak dibuat sejak zaman purba sebagai alat untuk membantu manusia dalam perburuan. Penggunaan tombak oleh simpanse menunjukkan kemungkinan bahwa manusia purba membuat tombak seawal-awalnya sekitar 5 juta tahun lalu. Sejak 400.000 tahun lalu Neanderthal sudah membuat tombak bermata batu sedangkan sejak 200.000 tahun lalu manusia menggunakan mata tombak dari batu yang diasah.
Dalam penggunaannya tombak dapat digunakan oleh pasukan berkuda(kavaleri) atau pasukan jalan kaki (infantri). Tombak yang digunakan kavaleri dalam bahasa Inggris biasa disebut lance sedangkan tombak panjang infantri pada zaman pertengahan biasa disebut pike. Terdapat sejenis senjata Eropa yang terlihat seperti campuran antara tombak dan kapak yang disebut halberd.

Nama-Nama Tombak/Lembing yang Tidak Dilempar

Berikut adalah daftar nama-nama tombak(belum diterjemahkan) di penjuru dunia:

Tombak/Lembing yang Dilempar

Tombak/lembing yang dilempar memiliki persamaan bentuk dengan tombak yang tidak dilempar, tetapi perbedaannya adalah cara penggunaannya yaitu dengan melemparkannya. Oleh karena itu, lembing biasanya lebih ringan atau setidaknya lebih ringan daripada tombak. Saat ini terdapat olahraga dunia yang berbasis penggunaan lembing yaitu lempar lembing (javelin throwing).

Nama-nama Tombak/Lembing yang Dilempar

Berikut nama-nama tombak yang biasanya dilempar dalam penggunaannya:
  • Angon
  • Assegai
  • Ballam
  • Bandang
  • Bhala
  • Bilari
  • Budiak
  • Cateia
  • Chimbane
  • Contus
  • Do-War
  • Egchos
  • Enhero
  • Fal-feg
  • Falarica
  • Framea
  • Gravo
  • Golo
  • Granggang
  • Hak
  • Harpun
  • Hinyan
  • Hoko
  • Huata
  • Irpull
  • Ja-Mandehi
  • Jaculum
  • Jarid
  • Lembing
  • Jiboru
  • Kasita
  • Kamayari
  • Kan-Shoka
  • Kannai
  • Kapun
  • Kiero
  • Kikuki
  • Koveh
  • Koy-yung
  • Koyuan
  • Kujolio
  • Kuyan
  • Laange
  • Lance-Ague
  • Lama-pe
  • Mandehi liguje
  • Mahee
  • Makrigga
  • Makura Yari
  • Mkukt
  • Mongile
  • Mongoli
  • Mu-Rongal
  • Nage-Yari
  • Nandum
  • Nerau
  • Paralyser
  • Patisthanaya
  • Pelta
  • Pill
  • Pillara
  • Pilum
  • Plumbatae
  • Sang
  • Sangkoh
  • Sanokat
  • Saunion
  • Shail
  • Shanen kopaton
  • Siligis
  • Tombak pendek (atau tombak biasa)
  • Simbilan
  • Sinan
  • Sligi
  • Soliferrum
  • Spiculum
  • Su Yari
  • Sudanese lance
  • Tahr Ruan
  • Tao
  • Tawok
  • Telempang
  • Tepoztopilli
  • Te yari
  • Tirrer
  • Tjunkuletti
  • Tombak
  • Tschehouta
  • Tumpuling
  • Wainian
  • Wallunka
  • Wi-Valli
  • Zagaye
Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

***

Gallery :


READMORE
 

Makna Lambang IPSI


Warna Kuning : berarti bahwa IPSI mengutamakan budi pekerti dan kesejahteraan lahir dan batin dalam menuju kejayaan nusa dan bangsa Bentuk Perisai Segi Lima : berarti bahwa IPSI berasaskan landasan idiil Pancasila, serta bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati.

Sayap Garuda berwarna Kuning berototkan merah : berarti kekuatan bangsa Indonesia yang bersendikan kemurnian, keluruhan dan dinamika, Sayap 18 lembar, bulu 5 lembar + 4 lembar + 8 lembar berarti tanggal berdirinya IPSI adalah 18 Mei 1948. Sayap 18 lembar, terdiri dari 17+1 berarti IPSI dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan bersatu membangun negara.

Untaian lima lingkaran : melambangkan bahwa IPSI melalui olahraga merupakan ikatan peri kemanusiaan antara pelbagai aliran dengan memegang teguh asas kekeluargaan, persaudaraan dan kegotong royongan.


Ikatan pita berwarna merah Putih : bahwa IPSI merupakan suatu ikatan pemersatu dari pelbagai aliran Pencak Silat, yang menjadi hasil budaya yang kokoh karena dilandasi oleh rasa berbangsa, berbahasa dan bertanah air Indonesia.

Gambar tangan putih di dalam Dasar hijau : menggambarkan bahwa IPSI membantu negara dalam bidang  ketahanan nasional melalui pembinaan mental/fisik agar kader-kader IPSI berkepribadian nasional serta  berbadan sehat, kuat dan tegap.

www.silatindonesia.com
READMORE
 

Filosofi Menang - Kalah

Kemenangan dan kekalahan adalah dua hal yang selalu berjalan bersama, keduanya beriringan meskipun orang memandangnya bertolak belakang. Kemenangan dan kekalahan sebenarnya adalah dua hal yang berpasangan, sama juga dengan hal lainnya. Akan tetapi di kehidupan ini satu diantaranya selalu dinanti, sedang satunya dihindari. Yang satu disambut dengan mata berbinar dan bersorak girang, satunya disambut dengan uraian air mata dan kegalauan hati. Kebanyakan orang memandang hanya kemenanganlah yang punya arti, "Hidup ini ya untuk menang, ngapain berjuang kalo akhirnya kalah?" Jika segala hal diciptakan punya maksud dan tujuan, lalu apakah kekalahan juga punya arti dan makna?
Menang, kalah, semua hal, ada karena punya arti. Dengan berjuang untuk menang, kita akan berusaha memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalu. Lalu kalau akhirnya kalah, apakah semuanya sia-sia saja? Malah jadi lebih buruk? Tidak, tentu, malah dengan kekalahan kita jadi tahu kelemahan kita. Persaingan, pertandingan, dan segala perlombaan, akan membuat kita tahu kelemahan yang ada pada diri kita sendiri, yang mungkin sebelumnya belum pernah kita sadari. Untuk jadi lebih baik, kita harus belajar dari yang lebih hebat. Maka takkan ada rasa menyesal karena kalah. Apalagi merasa dipecundangi.
Bagaimana dengan kemenangan? Kemenangan adalah sebuah penghargaan nyata atas usaha kita. Apakah itu sebuah bukti bahwa diri kita lebih baik dari yang lain? Tentu ya. Tetapi yang perlu disadari bahwa menang bisa jadi barang memabukkan. Meski waktu bertanding kita sadar akan kekurangan, tapi kalau menang kita bisa lupa diri, lupa akan kekurangan yang kita ingat tadi, lalu hanya merasa yang paling hebat. Jika demikian maka sebuah kemenangan tak mempunyai arti lebih baik dari sebuah kekalahan. Ada sudut pandang lain yang lebih baik dalam memandang kemenangan. Yaitu ketika tahu bahwa kemampuan kita lebih tinggi dari semua orang, apakah kita perlu kemenangan hanya untuk mengingatkan kembali bahwa kita yang paling hebat? Misal seorang grand master catur sedang melawan seorang pecatur muda berbakat. Apakah ia mengalahkan pemuda itu hanya untuk sebuah deklarasi kembali kehebatan dirinya? Tidak bukan? Ia tidak hanya sekedar mengalahkan, tetapi mengalahkan untuk mengajari, untuk memberi tahu kelemahan si pecatur muda. Jika kita bisa memandang kemenangan demikian, maka kita sudah melangkah lebih maju dari sebuah pemahaman biasa ke penyelaman arti dan makna.
Yang terakhir tersisa hanyalah sikap besar hati, kalah dan menang punya satu makna tersendiri. Sungguh tak ada hal diciptakan dengan sia-sia, melainkan ada karena punya makna. Berusahalah agar hari esok lebih baik dari hari sekarang dan hari sekarang lebih baik dari hari yang lalu! Bukankah itu yang selalu dinasehatkan?

from : ffin.blogspot.com
READMORE
 

Kejurprov V Tingkat Remaja Persinas ASAD Jabar


Persinas ASAD Jawa Barat menyelenggarakan Kejurprov V Tingkat Remaja di GOR KONI Jalan Jakarta No.6 Bandung, kegiatan ini berlangsung selama 3 (tiga hari) yaitu tanggal 22-24 Juni 2012
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengcab dan Pengkot Persinas ASAD yang tersebar di seluruh Jawa Barat.
Kegiatan ini bertema “Melalui Kejurprov Kita Tingkatkan Jiwa Ksatria, Disiplin, dan Sportivitas Generasi Penerus Menuju Prestasi Dunia”.
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 

READMORE
 

Sejarah Pencak Silat di Jawa Barat

Berdasarkan alirannya, beladiri Pencak Silat yang ada di Jawa Barat dibagi berdasarkan beberapa aliran. Diantaranya Cimande, Cikalong, Syahbandar dan beberapa aliran lainnya lagi.
Pencak Silat Cimande untuk pertamakalinya disebarkan oleh Sakir penduduk Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Sakir adalah salah seorang tokoh Pencak Silat, serta ilmu kebatinan Sakir dikenal "luhung elmu"nya. Karenanya, Sakir sangat disegani masyarakat. Penduduk setempat menganggap Sakir sebagai orang tua mereka sendiri.
Banyak pula muridnya yang sengaja belajar Pencak Silat. Pada saat itu yang memerintah Kabupaten Cianjur ialah Bupati R. Aria Wiratanudatar II sebagai Bupati yang ke V dari keturunannya. R. Aria Wiratanudatar II juga dikenal dengan sebutan Dalem Enoh, memerintah Kabupaten Cianjur antara tahun 1776-1813. Setelah diketahui Dalem, diangkatlah Sakir menjadi guru Pencak Silat dan keamanan di Kabupaten. Diantara muridnya yang termashur ialah putra dalem Enoh yang bernama R. Wiranaga yang mendapat julukan Aria Cikalong.
Menurut para ahli sejarah di Kabupaten Cianjur, selain R. Wiranagara terdapat pula R. Obing Ibrahim dan R. Haji Ipung Prawirasudibja. Merekalah yang menerangkan, bahwa pada tahun 1780 Sakir pernah dicoba kemahirannya dalam Pencak Silat dengan orang Cina dari Macao bertempat dialun-alun Cianjur dan pada kesempatan itu Sakir yang menang.
Pada tanggal 2 April 1812 R. Aria Wiratanudatar II atau lebih dikenal dengan nama R. Enoh meninggal dunia. Beliau meninggalkan 3 orang putra yakni : Aria Wiranagara yang lebih dikenal dengan nama Aria Cikalong, R. Natanagara yang setelah menunaikan Ibadah Haji lebih dikenal dengan nama R. Haji Muhamad Tobri dan Aom Abas yang kemudian menjadi Bupati Limbangan.
Untuk selanjutnya, Sakir dibawa pindah oleh R. Aria Natanagara ke Bogor. Oleh Bupati Bogor Sakir diangkat menjadi pengawal Bupati. Selama Sakir mengabdi pada Bupati Bogor, beliau bertempat tinggal di Cimande (Kabupaten Cianjur). Karena itulah Pencak Silat yang diajarkan dan disebarkan oleh Sakir disebut Pencak Cimande.
Menurut cacatat yang diperoleh, tersebarnya Pencak Cimande di Cianjur hanya sampai tahun 1813. Namun kemudian pada tahun 1819, pencak Cimande ini tersebar di Cianjur sebelah Selatan. Penyebaran Pencak Cimande ini dilakukan oleh putra-putra dan murid-muridnya Sakir. Mereka menyebar ke daerah Cianjur sebelah Selatan dan Garut Selatan khususnya di daerah-daerah perkebunan sebagai sasaran operasionalnya. Hal ini berlangsung sampai tahun 1930. Setelah penyebaran Pencak Cimande, disusul pula dengan Pencak Cikalong dan Syahbandar yang disebarkan oleh para putra dan murid R. Haji Ibrahim dari Cikalong.
Adapun yang menciptakan serta mengkreasikan Pencak Cikalong adalah . R. Haji Ibrahim turunan ke 9 dari Dalem Cikundul, Majalaya Kecamatan Cikalong Kulon. Ayahnya adalah R. Rajadireja, yang lebih dikenal sebagai Aom Raja, dan kakeknya adalah R. Wiranagara yang lazim disebut Aria Cikalong.
R. Haji Ibrahim dilahirkan pada tahun 1816. Keahlian dalam Pencak Silat diperolehnya pula dari leluhur kakeknya yang merupakan murid terpandai dari Sakir.
R. Haji Ibrahim mulai belajar Pencak dari R. Ateng Alimudin seorang putra Tubagus Kosim, yang merupakan keturunan ke 13 dari Sultan Hasanudin (Banten). R. Alimudin menikah dengan R. Siti Hadijah, ipar dari R. Haji Ibrahim. Sebenarnya R. Haji Ibrahim bukan hanya berguru kepada R. Ateng Alimudin saja, tetapi dalam melengkapi pengetahuannya tentang Pencak, R. Haji Ibrahim berguru pula pada Abang Ma’rup, Abang Madi, Abang Kari dan beberapa pendekar Pencak Silat lainnya.
Menurut catatan R. Haji Ibrahim meninggal dunia pada tahun 1906 dalam usia 90 tahun.
Menurut R. Obing Ibrahim salah seorang murid R. Haji Ibrahim, yang seolah olah bersembunyi agar tidak diketahui umum. Ada keistimewaan lainnya yang dimiliki oleh R. Haji Ibrahim yakni beliau tidak mau dibayar hasil jerih payahnya mengajar. Namun ajaran Pencak Cikalong hanya diberikan kepada orang-orang terbatas yang benar-benar melaksanakan persyaratannya, yakni taat dan taqwa kepada guru, taat dan taqwa kepad ratu, dalam hal ini pemerintah, taat dan taqwa kepada ayah dan ibu, taat dan taqwa kepada agama.
Disamping sebagai syarat mutlak bagi para murid Pencak Cikalong, diusahakan agar para muridnya tidak hidup sendiri-sendiri, tidak ditunggangi rasa kontradiksi dan merasa lebih tinggi daripadaa golongan lainnya. Syarat lainnya, ialah bahwa setiap muridnya harus menginsafinya, bahwa Pencak Silat yang lahir dan berkembang di Jawa Barat, masih merupakan satu sumber dan satu saluran dari yang pertama.
sumber : www.tadjimalela.netfirms.com || http://silatindonesia.com/2009/08/sejarah-pencak-silat-di-jawa-barat/
 
Penjelasan Singkat

Sejarah Silat Cimande
Semua komunitas Maenpo Cimande sepakat tentang siapa penemu Maenpo Cimande, semua mengarah kepada Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer dsb. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang, atau dalam bahasa Inggris Great Grandfather). Tetapi yang sering diperdebatkan adalah dari mana Abah Khaer itu berasal dan darimana dia belajar Maenpo. Ada 3 versi utama yang sering diperdebatkan, yaitu:
1. Versi Pertama
Ini adalah versi yang berkembang di daerah Priangan Timur (terutama meliputi daerah Garut dan Tasikmalaya) dan juga Cianjur selatan. Berdasarkan versi yang ini, Abah Khaer belajar Silat dari istrinya. Abah Khaer diceritakan sebagai seorang pedagang (dari Bogor sekitar abad 17-abad 18) yang sering melakukan perjalanan antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dsb. Dan dalam perjalanan tersebut beliau sering dirampok, itu terjadi sampai istrinya menemukan sesuatu yang berharga.
Suatu waktu, ketika Abah Khaer pulang dari berdagang, beliau tidak menemukan istrinya ada di rumah… padahal saat itu sudah menjelang sore hari, dan ini bukan kebiasaan istrinya meninggalkan rumah sampai sore. Beliau menunggu dan menunggu… sampai merasa jengkel dan khawatir… jengkel karena perut lapar belum diisi dan khawatir karena sampai menjelang tengah malam istrinya belum datang juga.
Akhirnya tak lama kemudian istrinya datang juga, hilang rasa khawatir… yang ada tinggal jengkel dan marah. Abah Khaer bertanya kepada istrinya… “ti mana maneh?” (Dari mana kamu?) tetapi tidak menunggu istrinya menjawab, melainkan langsung mau menempeleng istrinya. Tetapi istrinya malah bisa menghindar dengan indahnya, dan membuat Abah Khaer kehilangan keseimbangan. Ini membuat Abah Khaer semakin marah dan mencoba terus memukul… tetapi semakin mencoba memukul dengan amarah, semakin mudah juga istrinya menghindar. Ini terjadi terus sampai Abah Khaer jatuh kecapean dan menyadari kekhilafannya… dan bertanya kembali ke istrinya dengan halus “ti mana anjeun teh Nyi? Tuluy ti iraha anjeun bisa Ulin?” (Dari mana kamu? Lalu dari mana kamu bisa “Main”?).
Akhirnya istrinya menjelaskan bahwa ketika tadi pagi ia pergi ke sungai untuk mencuci dan mengambil air, ia melihat Harimau berkelahi dengan 2 ekor monyet. (Salah satu monyet memegang ranting pohon.) Saking indahnya perkelahian itu sampai-sampai ia terkesima, dan memutuskan akan menonton sampai beres. Ia mencoba mengingat semua gerakan baik itu dari Harimau maupun dari Monyet, untungnya baik Harimau maupun Monyet banyak mengulang-ngulang gerakan yang sama, dan itu mempermudah ia mengingat semua gerakan. Pertarungan antara Harimau dan Monyet sendiri baru berakhir menjelang malam.
Setelah pertarungan itu selesai, ia masih terkesima dan dibuat takjub oleh apa yang ditunjukan Harimau dan Monyet tersebut. Akhirnya ia pun berlatih sendirian di pinggir sungai sampai betul-betul menguasai semuanya (Hapal), dan itu menjelang tengah malam.
Apa yang ia pakai ketika menghindar dari serangan Abah Khaer, adalah apa yang ia dapat dari melihat pertarungan antara Harimau dan Monyet itu. Saat itu juga, Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan beliau. Ia berpikir, 2 kepala yang mengingat lebih baik daripada satu kepala. Ia takut apa yang istrinya ingat akan lupa. Beliau berhenti berdagang dalam suatu waktu, untuk melatih semua gerakan itu, dan baru berdagang kembali setelah merasa mahir. Diceritakan bahwa beliau bisa mengalahkan semua perampok yang mencegatnya, dan mulailah beliau membangun reputasinya di dunia persilatan.
Jurus yang dilatih:
1. Jurus Harimau/Pamacan (Pamacan, tetapi mohon dibedakan pamacan yang “black magic” dengan jurus pamacan. Pamacan black magic biasanya kuku menjadi panjang, mengeluarkan suara-suara aneh, mata merah dll. Silakan guyur aja dengan air kalau ketemu yang kaya gini. ).
2. Jurus Monyet/Pamonyet (Sekarang sudah sangat jarang sekali yang mengajarkan jurus ini, dianggap punah. Saya sendiri sempat melihatnya di Tasikmalaya, semoga beliau diberi umur panjang, kesehatan dan murid yang berbakti sehingga jurus ini tidak benar-benar punah).
3. Jurus Pepedangan (ini diambil dari monyet satunya lagi yang memegang ranting).
Cerita di atas sebenarnya lebih cenderung mitos, tidak bisa dibuktikan kebenarannya, walaupun jurus-jurusnya ada. Maenpo Cimande sendiri dibawa ke daerah Priangan Timur dan Cianjur Selatan oleh pekerja-pekerja perkebunan teh. Hal yang menarik adalah beberapa perguruan tua di daerah itu kalau ditanya darimana belajar Maenpo Cimande selalu menjawab “ti indung” (dari ibu), karena memang mitos itu mempengaruhi budaya setempat, jadi jangan heran kalau di daerah itu perempuan pun betul-betul mempelajari Maenpo Cimande dan mengajarkannya kepada anak-anak atau cucu-cucunya, seperti halnya istrinya Abah Khaer mengajarkan kepada Abah Khaer.
Perkembangannya Maenpo Cimande sendiri sekarang di daerah tersebut sudah diajarkan bersama dengan aliran lain (Cikalong, Madi, Kari, Sahbandar, dll). Beberapa tokoh yang sangat disegani adalah K.H. Yusuf Todziri (sekitar akhir 1800 – awal 1900), Kiai Papak (perang kemerdekaan, komandannya Mamih Enny), Kiai Aji (pendiri Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, perang kemerdekaan), Kiai Marzuk (Maenpo H. Marzuk, jaman penjajahan Belanda), dll.
2. Versi Kedua Menurut versi kedua, Abah Khaer adalah seorang ahli maenpo dari Kampung Badui. Beliau dipercayai sebagai keturunan Abah Bugis (Bugis di sini tidak merujuk kepada nama suku atau daerah di Indonesia Tengah). Abah Bugis sendiri adalah salah seorang Guru ilmu perang khusus dan kanuragaan untuk prajurit pilihan di Kerajaan Padjadjaran dahulu kala. Kembali ke Badui, keberadaan Abah Khaer di Kampung Badui mengkhawatirkan sesepuh-sesepuh Kampung Badui, karena saat itu banyak sekali pendekar-pendekar dari daerah lain yang datang dan hendak mengadu jurus dengan Abah Khaer, dan semuanya berakhir dengan kematian.
Kematian karena pertarungan di tanah Badui adalah merupakan “pengotoran” akan kesucian tanah Badui. Karena itu, pimpinan Badui (biasa dipanggil Pu’un) meminta Abah Khaer untuk meninggalkan Kampung Badui, dengan berat hati… Abah Khaer pun pergi meninggalkan Kampung Badui dan bermukim di desa Cimande-Bogor. Tetapi, untuk menjaga rahasia-rahasia Kampung Badui (terutama Badui dalam), Abah Khaer diminta untuk membantah kalau dikatakan dia berasal dari Badui, dan orang Badui (Badui dalam) pun semenjak itu diharamkan melatih Maenpo mereka ke orang luar, jangankan melatih… menunjukan pun tidak boleh. Satu hal lagi, Abah Khaer pun berjanji untuk “menghaluskan” Maenpo nya, sehingga tidak ada lagi yang terbunuh dalam pertarungan, dan juga beliau berjanji hanya akan memakai dan memanfaatkannya untuk kemanusiaan.
Oleh karena itu, dahulu beberapa Guru-guru Cimande tua tidak akan menerima bayaran dari muridnya yang berupa uang, lain halnya kalau mereka memberi barang… misal beras, ayam, gula merah atau tembakau sebagai wujud bakti murid terhadap Guru. Barang-barang itupun, oleh Guru tidak boleh dijual kembali untuk diuangkan.
Versi kedua ini banyak diadopsi oleh komunitas Maenpo dari daerah Jawa Barat bagian barat (Banten, Serang, Sukabumi, Tangerang, dsb). Mereka juga mempercayai beberapa aliran tua di sana awalnya dari Abah Khaer, misalnya Sera. Penca Sera berasal dari Uwak Sera yang dikatakan sebagai salah seorang murid Abah Khaer (ada yang mengatakan anak, tetapi paham ini bertentangan dengan paham lain yang lebih tertulis). Penca Sera sendiri sayangnya sekarang diakui dan dipatenkan di US oleh orang Indo-Belanda sebagai beladiri keluarga mereka.
3. Versi Ketiga
Versi ketiga inilah yang “sedikit” ada bukti-bukti tertulis dan tempat yang lebih jelas. Versi ini pulalah yang dipakai oleh keturunan beliau di Kampung Tarik Kolot – Cimande (Bogor). Meskipun begitu, versi ini tidak menjawab tuntas beberapa pertanyaan, misal: Siapa genius yang menciptakan aliran Maenpo ini yang kelak disebut Maenpo Cimande.
Abah Khaer diceritakan sebagai murid dari Abah Buyut, masalahnya dalam budaya Sunda istilah Buyut dipakai sebagaimana “leluhur” dalam bahasa Indonesia. Jadi Abah Buyut sendiri merupakan sebuah misteri terpisah, darimana beliau belajar Maenpo ini… apakah hasil perenungan sendiri atau ada yang mengajari? Yang pasti, di desa tersebut… tepatnya di Tanah Sareal terletak makam leluhur Maenpo Cimande ini… Abah Buyut, Abah Rangga, Abah Khaer, dll.
Abah Khaer awalnya berprofesi sebagai pedagang (kuda dan lainnya), sehingga sering bepergian ke beberapa daerah, terutama Batavia. Saat itu perjalanan Bogor-Batavia tidak semudah sekarang, bukan hanya perampok… tetapi juga Harimau, Macan Tutul dan Macan Kumbang. Tantangan alam seperti itulah yang turut membentuk beladiri yang dikuasai Abah Khaer ini. Disamping itu, di Batavia Abah Khaer berkawan dan saling bertukar jurus dengan beberapa pendekar dari China dan juga dari Sumatra. Dengan kualitas basic beladirinya yang matang dari Guru yang benar (Abah Buyut), juga tempaan dari tantangan alam dan keterbukaan menerima kelebihan dan masukan orang lain, secara tidak sadar Abah Khaer sudah membentuk sebuah aliran yang dasyat dan juga mengangkat namanya.
Saat itu (sekitar 1700-1800) di Cianjur berkuasa Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI (1776-1813, dikenal juga dengan nama Dalem Enoh). Sang Bupati mendengar kehebatan Abah Khaer, dan memintanya untuk tinggal di Cianjur dan bekerja sebagai “pamuk” (pamuk=guru beladiri) di lingkungan Kabupatian dan keluarga bupati. Bupati Aria Wiratanudatar VI memiliki 3 orang anak, yaitu: Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong), Rd. Aria Natanagara (Rd.Haji Muhammad Tobri) dan Aom Abas (ketika dewasa menjadi Bupati di Limbangan-Garut). Satu nama yang patut dicatat di sini adalah Aria Wiranagara (Aria Cikalong), karena beliaulah yang merupakan salah satu murid terbaik Abah Khaer dan nantinya memiliki cucu yang “menciptakan” aliran baru yang tak kalah dasyat.
Sepeninggal Bupati Aria Wiratanudatar VI (tahun 1813), Abah Khaer pergi dari Cianjur mengikuti Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor. Mulai saat itulah beliau tinggal di Kampung Tarik Kolot – Cimande sampai wafat (Tahun 1825, usia tidak tercatat). Abah Khaer sendiri memiliki 5 orang anak, seperti yang dapat dilihat di bawah ini. Mereka inilah dan murid-muridnya sewaktu beliau bekerja di kabupaten yang menyebarkan Maenpo Cimande ke seluruh Jawa Barat.
http://www.kupload.com/out.php/i5010_AbahKhaer.JPG. Dan ini adalah gambaran dari salah seorang anak Rd. Aria Wiratanudatar VI, yaitu Aom Abas, yang setelah menjadi Bupati di Limbangan Garut juga bergelar Rd. Aria Wiratanudatar.
Sayangnya image tentang Abah Khaer sendiri tidak ada, cuma digambarkan bahwa beliau: “selalu berpakain kampret dan celana pangsi warna hitam. Dan juga beliau selalu memakai ikat kepala warna merah, digambarkan bahwa ketika beliau “ibing” di atas panggung penampilannya sangat expressif, dengan badan yang tidak besar tetapi otot-otot yang berisi dan terlatih baik, ketika “ibing” (menari) seperti tidak mengenal lelah. Terlihat bahwa dia sangat menikmati tariannya tetapi tidak kehilangan kewaspadaannya, langkahnya ringan bagaikan tidak menapak panggung, gerakannya selaras dengan kendang (“Nincak kana kendang” – istilah sunda). Penampilannya betul-betul tidak bisa dilupakan dan terus diperbincangkan.” (dari cerita/buku Pangeran Kornel, legenda dari Sumedang, dalam salah satu bagian yang menceritakan kedatangan Abah Khaer ke Sumedang, aslinya dalam bahasa Sunda, pengarang Rd Memed Sastradiprawira).
Cat: lain kali saya posting soal apa itu pangsi dan kampret seperti yang dipakai Abah Khaer yang diduga mempengaruhi cara berpakain pesilat-pesilat sekarang terutama dari Sunda.
jurus-jurus silat cimande
1. Jurus Kelid Cimande.
1.tonjok bareng,
2.tonjok saubelah,
3.kelid selup,
4.timpah seubelah,
5.timpah serong ,
6.timpah duakali,
7.batekan,
8.teke tampa,
9.teke purilit
10.tewekan,
11.kedutan,
12.guaran,
13.kedut guar
14.kelid dibeulah
15.selup dibeulah,
16,kelid tonjok
17.selop tonjok
18.kelid tilu,
19.selup tilu
20.kelid lima
21.selup lima
22 peuncitan,
23.timpah bohong
24.serong panggul,
25.serong guwil,
26.serong guar,
27.singgul serong,
28.singgul sebelah,
29.sabet pedang,
30.beulit kacang,
31.beulit jalak pengkor
32.pakala alit
33.pakala gede
2. Jurus Pepedangan Cimande.
- elakan sebeulah
- selup kuriling
- jagangan
- tagongan
- piceunan
- balungbang
- balumbang
- sabeulah
- opat likur
- buang dua kali
- selup kuriling langsung
- selop bohong.
3. Jurus Telapak Selancar.
Leluhur cimande
Yang sudah meninggal dan terletak di Kabupaten Bogor :
.
1. Embah Haji Abdullah Somad (Ayah Otjod)
2. Embah Atje (Ayah Atje)
3. Embah Rangga (Eyang Rangga)
4. Embah Ursi (Ayah Ursi)
5. Embah Karta Singa
.
Yang sudah meninggal dan terletak di Kota Madya Bogor :
1. Embah Khoer (Embah Khair) – Tanah Sareal Bogor (Kebun Raya)
2. Embah Dato – Bantar Jati Kaum
3. Embah Djapra – Kebun Raya Bogor
4. Embah Dalem – Batu tulis Bogor
5. Embah Jair – Bantar jati timur – Bogor
.
Di Kecamatan Semplak :
.
1. Embah Raden Harun Semplak Kaum
.
Di Kaum Pandak :
.
1. Embah Raden
.
Di Pelabuhan Ratu :
.
1. Embah H. Wali Sakti Kodratullah (leluhur Sukawayana)
2. Embah Genter Bumi
3. Embah Sukmawijaya
4. Embah Angka Jaya Sakti
5. Embah Rembang Karang Hawu
6. Embah Angguh
7. Eyang Sungsang Layang Laut Kidul
.
Di Kab. Cianjur :
.
1. Embah Dalam Cikundul Wiratanudatar
2. Aom Djamhur
3. Abah Sera
4. Abah Madi
5. Abah Kardi
6. Abah Kalong
7. Abah Kando
.
Di Kab. Sumedang :
.
1. Embah Djaka Raksa
2. Embah Djoko Perkasa
.
Di Kab. Garut :
.
1. Sunan Rahmat Leuweung Sancang Gadog Suci (Prabu Kean Santang)
2. Abah Madi
3. Abah Kari
4. Syah Abdul Muhyi – Pamijahan Tasikmalaya – Garut – Gosong Suci – syeh Djafar Sidik
.
Di Kab. Cirebon :
.
1. Susuhunan Kasepuhan
2. Susuhunan Kenoman
3. Susuhunan Cirebonan (Sunan Kecirebonan)
4. Syeh Syarief Hidayatullah (Syeh Mudaim)
5. Syeh Saikodirjaelani
6. Nyi MAs Panatagama
.
Di Seda Palembang :
1. Pangeran Maulana Muhammad
2. Pangeran Basisir
.
Di Banten :
.
1. Maulana Hasanudin – Mesjid Agung
2. Maulana Yusuf – Kasuniatan
3. Maulana Mansyur – Cikaduan
4. Syeh Asnawi – Caringin Labuhan Banten
.
Di Madura :
.
1. Maulana Malik Ibrahim – Bangkalan (Madura)
2. Maulana Magribi – Pemakasan
.
Guru – Guru Cimande
.
1. Abah Haji Gaos (Abah Encun) – Tari Kolot Cimande Girang
2. Abah Haji Miftah – Tari Kolot Cimande Girang
3. Abah Haji Karim – Tari Kolot Cimande Girang
4. Abah Haji Komar – Tari Kolot Cimande Girang
5. Abah Holili -Tari Kolot Cimande Girang
6. Abah Haji Lukman (Abah Enang) – Pasir Muncang
7. Abah Boim ( Cisempur)
8. Mang Sobari – Cisalada
9. Abah Hasbuna – Ciangsana
10. Abah Syafei – Kebon Pedes
11. Bapak Kyai Djasmani – Pandeglang
12. Bapak Kyai Moch, Yusuf – Batu Bandar Banten
13. Abah Sidik Bin enos – Tari Kolot Cimande
14. Abah Ayub Bin H. Abdul Rosyid – Cisaladana
15. Abah Haji Acih Jarkasih – Tari Kolot Cimande
16. Abah Open – Kebun Pedes
17. Abah Husin – Bojong Menteng
.
Catatan : Tentang leluhur Cimande ini dikutip dari buku catatan tahun 1961 dan disusun oleh Guru Besar Padjadjaran Cimande, Bapak H. Tb. Djamhari pada tanggal 14 September 1971.
sumber : http://padjadjarancimandepusat.blogspot.com

Silat Syahbandar
Silat Syahbandar di Indonesia banyak di kenal dengan banyak sebutan, diantaranya banyak yang menyebutnya Gerak Sabandar, Gerak Panca Tunggak, Jurus Lima. Dan Silat Syahbandar saat ini menjadi dasar / aliran dari berbagai Perguruan Pencak Silat di Indonesia.
Asal muasal dari Silat Syahbandar ini berawal dari seorang Pendekar Silat dari Pagaruyung, yaitu Moh. Kosim Ama Sabandar yang di lahirkan pada tahun 1766 di pagaruyung (Minangkabau Timur) dan meninggal pada tahun 1880 dan dimakamkan di wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Bahwasanya dalam aliran2 silat Minang terdapat aliran silat tenaga dalam, beliau menyebutnya lebih tepat dengan istilah tenaga batin. Di Minang metode tersebut dikenal dengan nama Ilmu Gayung. Ilmu Gayung ada dua jenis yaitu Gayung Lahir dan Gayung Batin (gayung bersambut dan gayung tak bersambut ). Silat Minang itu dirangkum dari  4 aliran  : – Silat Harimau Campo, yg berasal dari Champa – Silat Kucieng Siam, yg berasal dari Siam – Silat Kambieng Utan, yg berasal dari Bhutan – Silat Anjueng Mualiem , yg berasal dari Persia. Yang kemudian oleh Nini Datuk Suri Dirajo dipoles dan disempurnakan menjadi Silek Tuo pada sekitar tahun 1190 M. … Next …
SEJARAH PERSILATAN JURUS LIMA
Persilatan Jurus Lima atau yg biasa dikenal dengan Jurus Syahbandar dikenal dengan beberapa nama antara lain; Langkah Empat(langkah ampek), Jalan lima, Gerak Anu Opat Kalima Pancer, Gerak Sabandar, Gerak Asror, Gerak Panca Tunggal,dll.
Dahulu dikenal sebagai kepandaian atau kelihaian dari Moh. Kosim Ama Sabandar , berasal dari Pagaruyung Sumatra Barat.
Sementara itu menurut penyelidikanku secara langsung ke Bukit Tinggi-Padangpanjang-Batusangkar, yg mana dalam hal ini aku sangat dibantu sekali oleh Bpk.Drs.Mid Djamal
(Dosen ASKI Padangpanjang) . Aku mendapatkan banyak keterangan yang menarik tentang aliran2 silat/pentjak Minangkabau. Berhubung Beliau adalah jg penulis dari sebuah buku yang berjudul “Aliran2 Silat Minangkabau”.
Bahwasanya dalam aliran2 silat Minang terdapat aliran silat tenaga dalam, beliau menyebutnya lebih tepat dengan istilah tenaga batin. Di Minang metode tersebut dikenal dengan nama Ilmu Gayung. Ilmu Gayung ada dua jenis yaitu Gayung Lahir dan Gayung Batin (gayung bersambut dan gayung tak bersambut ).
Silat Minang itu dirangkum dari “4 aliran” :
- Silat Harimau Campo, yg berasal dari Champa
- Silat Kucieng Siam, yg berasal dari Siam
- Silat Kambieng Utan, yg berasal dari Bhutan
- Silat Anjueng Mualiem , yg berasal dari Persia.
Yang kemudian oleh Nini Datuk Suri Dirajo dipoles dan disempurnakan menjadi Silek Tuo pada sekitar tahun 1190 M.
RIWAYAT HIDUP MOH.KOSIM AMA SABANDAR
Dilahirkan pada tahun 1766 di Pagaruyung (Minangkabau Timur), meninggal pada tahun 1880 dimakamkan di Wanayasa, Purwakarta, Jawa-Barat. Berarti umurnya mencapai 114 thn.
Menurut keterangan dari Bpk.Letkol Ckh. Abdur Rauf,SH ( Sesepuh Pusaka Paguron Cikalong / PPC / Cianjur) Beliau pernah mendengar keterangan dari para Sesepuh Cikalong terdahulu bahwasanya Moh Kosim itu diusir dari Pagaruyung karena mengajarkan Silat Pusako kepada orang kebanyakan / masyarakat awam yg bukan Bangsawan atau keluarga kerajaan.
Diceritakan pula pada masa itu, beliau Moh Kosim adalah seorang pemuda bangsawan
Yang punya kegemaran berlomba perahu dengan orang kebanyakan, pergaulannya sehari-hari sangat dekat dengan masyarakat bawah.
Apalgi masa itu banyak terjadi ketidak adilan dan kesemena-menaan yg dilakukan oknum2 penguasa kerajaan terhadap rakyatnya.
Sehingga atas dasar itulah mengapa seorang pemuda bangsawan kerajaan, menjadi terketuk hatinya untuk mengajarkan pusako pentjak, yang menjadi symbol kebanggaan yg sangat diimpi2kan setiap pemuda minang. Sehingga semakin ramailah para pemuda minang yang belajar pentjak, dan hal ini kemudian menjadi santer terdengar pihak oknum2 kerajaan yg menjadi terganggu dan merasa khawatir terancam secara tak langsung, karena mulai menyebabkan perlawanan secara tak langsung dari masyarakat.
Kemudian akhirnya terjadi perselisihan paham antara Moh Kosim dengan keluarganya yaitu mengenai masalah “peraturan pentjak”. Moh Kosim dianggap keluarganya telah menyalahi peraturan, karena tak boleh mengajarkan pusako kepada orang kebanyakan.
Dan karenanya ( juga akibat fitnah dan gosokan dari oknum penguasa ) diambillah keputusan hukuman baginya, diusir dari Pagaruyung.
Sehingga pelajaran pentjak kepada orang kebanyakan menjadi tak selesai dan tak sempurna, sehingga bukan merupakan ancaman lagi bagi oknum penguasa untuk melanjutkan penindasanya kepada kaum lemah.
Dalam kepiluan hatinya terusir dan pergi meninggalkan kampung halamannya, Moh Kosim naik kapal kompeni, menuju ke Batavia.
Di kapal terjadilah suatu kejadian yang tidak diduga, entah karena sebab apa, terjadilah pertarungan antara Moh Kosim melawan salah satu jagoan kompeni. Dengan hanya satu kali gerakan saja , pecahlah kepala jagoan kompeni itu dihantam memakai lutut kaki.
Diceritakan selanjutnya sesampainya di Batavia, Moh kosim terlunta-lunta tak punya kegiatan dan pekerjaan berjalan tanpa arah dan tujuan mengikuti langkah kaki saja sehingga akhirnya sampailah di suatu tempat Desa Karang Tengah Cianjur.
Disanalah beliau ada yg memanggilnya, yaitu pemilik perkebunan / tuan tanah , R.H.Enoch untuk dipekerjakan sebagai centeng menjaga danau dan perkebunan kelapa.
Kemudian saat menjalankan tugasnya inilah terjadi lagi pertarungan berkali-kali antara pemuda minang ini melawan gerombolan perompak dan pengacau, yang selalu berakhir dengan tewasnya para perompak tersebut. Menjadi berita yg menggegerkan dilingkungan tersebut sehingga menjadi perhatian R.H.Enoch.
Memanglah dari sejak awal RH Enoch memanggil Moh Kosim, telah melihat ada sesuatu yang lain dari sikap tutur bahasa dan penampilannya. Dan peristiwa demi peristiwa yang terjadi di perkebunan telah memancing RH Enoh untuk menanyakan siapakah sebenarnya Moh Kosim.
Sehingga terbukalah jati diri seorang Pemuda Bangsawan Dari Pagaruyung.
Dan menurut keterangan selanjutnya, atas dasar inilah kemudian Moh Kosim diangkat mantu dinikahkan dengan puteri RH Enoh. Dan juga RH Enoh ikut mempelajari pentjak minang, serta Moh Kosim dijadikan sebagai guru pentjak untuk mengajarkan kepada sanak kerabat RH Enoh.
Mengenai postur tubuh perawakan Moh Kosim ialah dikatakan sebagai jangkung tinggi gede , tatapan mata dan pandangannya agung, berdada bidang tegap, dan tubuhnya kuat luar biasa. Adat tabiatnya sabar, sangat welas asih jika mengajar silat dan menghadapi murid-muridnya. Namun sangat teguh,tegas,dan sangat keras bila menghadapi bahaya dan menghadapi perusuh pengacau.
Dan dikatakan lagi sangat tinggi ilmu kebatinannya.
Bila melaksanakan pentjak tak pernah berlaku curang, jk berlaku demikian
Lagi pasti akan banyak yang celaka dan mati karena ulahnya.
Bila mengajarkan pentjak kepada murid2nya, berhubung keadaan fisik dan tenaganya yang sangat terlalu keras, maka beliau mengajarkannya secara lemes.
Karena kemasyhuran namanya inilah dikatakan menjadi sebab tertariknya Abang Kari dan Abang Mahdi serta Mbah Khaer untuk saling ber “Silaturrahmi”
Dalam artian saling “bersilat”. Dan ini kejadiannya diceritakan sangat tak masuk akal, ada yg mengatakan terjadilah pertarungan diantara sesama mereka selama 3 hari berturut-turut, bahkan ada yang mengatakan sampai 7 hari.
Dan kesudahannya, “tiada yang kalah dan tiada yang menang”.
Dan menjadi penyebab terjalinnya persahabatan persaudaraan yg erat diantara mereka.
SPESIFIKASI MANFAAT, FILOSOFIS, JURUS LIMA SYAHBANDAR.
Sebenarnya , masih banyak misteri yang melingkupi jurus lima Syahbandar.
Berikut ini adalah penjelasan sedikit2 dari hasil dialog kepada beberapa orang pendekar Syahbandar yang kemudian (mohon maaf) diramu berdasarkan pencerahan penulis pribadi yg didapat dari kemurahan Allah SWT.
Saya menghimbau kepada seluruh praktisi dan penerus syahbandar untuk menghayati jurus lima dalam latihannya, merenungkannya, mendiskusikannya, dan ikut mencari pemecahan misteri jurus lima Syahbandar. Mudah-mudahan hal tersebut akan menambah kemajuan bagi diri dan perguruan untuk pengamalan di masyarakat dan sambil terus menerus memohon ridho Allah.
Perlu diketahui bahwa saat ini di Jawa Barat saja banyak sekali para Pendekar Syahbandar yang hanya memakai jurus lima saja sebagai pegangannya dan juga pengajarannya. Bahkan, bila kita ingin dan kemudian minta diajarkan jurus lima tersebut akan sangat susah sekali mendapatkannya.
Bila kemudian telah didapat, kemudian belajar jurus2nya selanjutnya kita akan dibiarkan dalam kebingungan bagaimana cara untuk mempraktekannya dan memanfaatkannya dalam perkelahian. Atau bila dirasa sudah mendapatkan pencerahan akibat latihan dan praktek lapangan, dan sering kali timbul sesuatu berupa keanehan dan keajaiban. Kemudian terjadi pertentangan nurani, bagaimana kok bisa terjadi keanehan, apakah ada peran serta jin didalamnya ataukah memang hasil latihan tenaga murni manusia?,
Mungkin untuk sementara dapatlah diambil kesimpulan adalah bahwa semakin didalami
Jurus lima itu semakin kita merasakan banyaknya rahasia dan misteri yang terkandung didalamnya.
Oleh karena itu sebaiknya kita syukuri saja akan nikmat anugerah Allah ini, bila kita berhasil menemukan sekelumit manfaat dan pencerahannya, semoga dengan itu Allah SWT berkenan untuk membimbing kita dan memberikan ridhoNya kepada Jati Diri kita masing-masing.
JURUS KESATU SYAHBANDAR
Dikenal juga dengan istilah Keupeul, atau jurus Pancer. Maksudnya adalah jurus ini merupakan inti dari semua jurus. Jurus ini adalah jurs Isi Pengisian. Dari jurus inilah kemudian menjadi jalan bagi jurus yg lainnya. Dengan rumusan kata-katanya adalah Isi Satu salurkan Dua-Tiga-Empat-Lima. Atau Isi Satu salurkan Dua, tarik Tiga, liliwatan empat, angkat jatohan Lima.
Jurus Satu menjadi inspirasi jurus lainnya adalah demikian. Bila kita memohon kepada Allah SWT maka kita tengadahkan kedua tapak tangan keatas seperti berdo`a, saat itu rasakanlah kita mendapat suatu getaran yang kemudian kita ambil dengan menariknya perlahan posisi tapak tangan menjadi mengepal menuju kedada, dan turun sedikit kearah perut. Inilah yg disebut kejadian jurus satu dan pengisiannya. Pengisian getaran Ilahiah.
Dalam keterangan ma`rifat dijelaskan, jika memang sudah meresap maka jurus satu ini akan mampu menimbulkan bentuk lapisan hijab mencapai 11.000 hijab kedepan belakang kanan dan kiri (lebih kurang mencapai radius 220m)
Dan dari sinilah kemudian sering terjadi pencerahan2 fisik maupun batin, yg kemudian dalam prakteknya dibuktikan, hasil melatih focus jurus ini (minimal 100x ulangan)
Selama 7 hari berturut-turut, akan mampu untuk menjadi tahan pukul, tahan sakit, tahan tendangan,tahan bacokan.
JURUS KEDUA SYAHBANDAR
Jurus kedua ini terjadi dari akibat melaksanakan jurus Satu secara terus menerus rutin. Prosesnya demikian , bila kita terus menerus mengisi diri, maka diri kita akan penuh dengan getaran. Getaran ini akan luber dan mencari jalan untuk keluar/mengalir (mirip ya dengan porinsip Hukum Thermodinamika II). Proses penyaluran inilah yang menjadi jurus Kedua Syahbandar. Dan ini sangat sesuai dengan prinsip2 “Menerima maka berakibat akan memberi” atau “Memberi maka berakibat akan menerima”.
Apa-apa yang kita dapatkan maka kita amalkan, apa-apa yg kita terima ada diantara bagian itu yg harus disedekahkan. Jadi hidup kita ini jangan menjadi orang yg menerima saja, tapi harus juga memberi.
Jurus kedua ini juga merupakan sikap mental Tauhid, yaitu dari sikap meolak kemungkaran, kejahatan, dll.
JURUS KETIGA SYAHBANDAR
Jurus ketiga ini terjadi seperti pada prinsip yg telah diterangkan pada jurus kedua yaitu bahwa bila kita memberi maka berakibat kita akan menerima atau menarik imbalannya. Karena kita juga butuh penerimaan.
Namun jurus ketiga ini dalam praktek dapat disebutkan sebagai pancingan
Sebagai jurus yg menyembunyikan jurus yg lain/ yg disembunyikan keluarnya
Dan dapat menjadi jurus eksekusi.
JURUS KEEMPAT SYAHBANDAR
Jurus ini dikenal sebagai liliwatan. Inilah dalam aplikasi beladiri yg paling banyak dikembangkan dan digabungkan kepada Kari dan Mahdi.
Keunikan jurus ini ialah dalam prakteknya mampu untuk manipulasi tenaga lawan bukan dengan tenaga kita, melainkan dengan tenaga lawan itu sendiri melalui prinsip meliwatkan. Dan menimbulkan ketidakseimbangan pada gerakan lawan.
Terjadinya jurus empat ini adalah akibat dari gerakan2 tarik tolak-tolak tarik,
Menimbulkan perputaran energi atau gerakan2 memutar/melingkar/rotasi.
JURUS KELIMA SYAHBANDAR
Jurus ini dinamakan juga dengan istilah angkat junjung. Terjadinya jurus ini bisa dilihat dari fenomena daya liliwatan/perputaran. Untuk gerak rotasi itu terbagi dua. Seperti pada sentrifugal dan sentripetal. Maksudnya akibat dari gerakan putar menyebabkan arah perputaran naik keatas(layaknya angin puting beliung). Atau gerakan putar yang menjatuhkan/menarik kebawah (layaknya pusaran air).
Pada gerakan yang kelima inilah kemudian diambil maknya akan filosofi peningkata iman dan taqwa dan bukannya peningkatan keatas menjadi sombong, angkatlah derajat, martabat diri dan orang lain.
Jurus kelima menjadi makna pujian, jika kita mengangkat-angkat (memuji) orang, yang berakibat oramg itu jadi sombong, mk akan dimakan oleh siapa saja yang tak akan tahan melihat kesombongannya. Inilah makna jurus kelima untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yg zholim.
KLASIFIKASI,PENERANGAN,TARGET,&PERKEMBANGAN JURUS LIMA
1.Jurus Syahbandar
-Jurus Tunggal:
-Jurus tunggal Pancer (yaitu jurus 1)
-Jurus tunggal tolak (yaitu jurus 2,4,5)
-jurus tunggal tarik (yaitu jurus 3)
-Jurus Gabungan:
-Gabungan lima inti
-Gabungan lima inti acak
-Syahbandar Kari Mahdi Keras (17 jurus)
-Syahbandar Kari Mahdi Halus (21, 22, 25, jurus)
-Tangtung Alif
-Jurus Rasa:
-Gerak Rasa Sejati
-Silat Sejati
-Gerak Hadiran
-Gerak Ma`rifat
2.Variasi Langkah Kaki:
-Langkah hentak (sisi luar telapak)
-langkat sered gusur
-langkah seret C
-langkah seret hentak
-langkah kesot
3.Pernafasan:
-nafas tahan pada perut (prinsip Hu-Allah)
-nafas tahan pada dada dan perut
-nafas tolak pada dada dan perut
-tembakan sanalika
4.Inti Kekuatan / Tenaga
Sangat diyakini oleh para praktisi dan guru Syahbandar bahwa manusia itu kelemahannya pada perut, tetapi justeru kelebihan/kekuatan tenaga juga terdapat dari perut.
5.Etika Syahbandar
Ilmu Syahbandar diajarkan melalui proses ikatan bathiniah antara guru dan murid.
Tidak bisa dipelajari sendiri tanpa petunjuk guru, kecuali mendapat Wisik langsung
Dari Allah SWT, melalui Ruhaniah Guru2 terdahulu..
Para praktisi Syahbandar sejati tidak akan pernah berniat untuk secara sengaja merusak dan membunuh lawan. Tetapi berusaha untuk mengikuti ajaran luhur Syahbandar yaitu
“Menjatuhkan lawan untuk menyadarkannya”.
Oleh karena itu jika terpaksa akhirnya terjadi kerusakan dan kematian, maka kembalikanlah kesadaran prinsip kepada Surah Al Anfal:17
Yang artinya:
“Dan sekali-kali bukanlah engkau yang membunuh tetapi Akulah Allah yang membunuh, dan sekali-kali bukanlah engkau yang melontar tetapi Akulah Allah yg melontarnya.”
Dan kita harus meyakini bahwa tenaga dalam/tenaga batin itu adalah dari Allah, milik Allah, dan untuk jalan Allah.
Apa-apa yang kita lakukan dalam rangka memperoleh, memanfaatkan, dan merawat tenaga dalam itu hanyalah sekedar syareat saja, hakikatnya adalah kembali kepada Allah saja.
Seorang murid jika telah dirasa cukup pelajaran jurus2nya, maka akan mendapatkan restu dari guru yaitu berupa “pengisian” (pembangkitan Rasa) melalui do`a2, atau langsung antara guru dan murid melakukan “jual-beli” (jajal rasa) dan ririungan selamatan
Setelah sebelumnya itu disarankan kepada murid untuk berpuasa sunnah lillahi ta`ala.
6.Zikir
Aurod Rahasia
Yaitu bacaan dalam bentuk Ayat dan Mantera, yg isinya menyangkut inti rahasia gerak
Dan jalannya tenaga khas Syahbandar
Zikir Bergerak,
zikir bergerak ialah bacaan asma` yg dibaca dalam hati tatkala melaksanakan jurus;
- Zikir Asmak Lima
- Zikir Khofi
- Zikir Nafi Itsbat
- Zikir Ismuz Zat
- Zikir Khos Sirri
7.Target Syahbandar
Target Fisik:
Menguasai dan mendapatkan Sanalika, sesuai pemahaman dan kondisi masing-masing.
Target Batin:
Penguasaan Rasa dan Tangtungan Alif
Jati Diri:
Menemukan bentuk geraknya dan jalannya diri sejati dalam rangka pengamalan untuk mendapatkan ridho Allah semata.
8.Sasaran tembakan Syahbandar
Sasaran khusus:
- rangkai jantung, – rangkai limpa, -rangkai hati
Sasaran umum:
- Paru2 kanan dan kiri
- Pangkal paha kanan dan kiri
- Urat leher kanan dan kiri
- Lekuk tenggorokan
- Pangkal lengan kanan dan kiri
- Puser
- Siku lengan kanan dan kiri
- Ulu hati
- Daerah persendian/sambungan tulang pada seluruh tubuh
- Bebas , dimana saja yg terkena.
9.Jual-beli / ban-banan Syahbandar
Ban-banan Fisik:
- saling mengadu dengan menggunakan jurus syahbandar, namun masih bersifat kelit atau menjatuhkan lawan dengan memanipulasi tenaga lawan itu sendiri.
- Mampu menjatuhkan lawan dengan sedikit gerakan disertai kepekaan rasa
- Mampu memukul hanya dengan jarak sejengkal.
- Mampu memukul walaupun dalam keadaan menempel dan tanpa jarak lagi.
- Jual beli dengan menggunakan tenaga dalam/tenaga batin
Ban-banan Batin (ilmu senteran bathin)
Menggunakan jurus hanya dalam hati, menjatuhkan lawan cukup dengan menyenter jalur-jalur jalannya tenaga pada tubuh, baik dengan menggunakan isyarat tangan atau cukup dalam bayangan (ma`rifat)., dilakukan baik berhadapan maupun secara tidak berhadapan langsung (jarak jauh).
( penulis : ki sawung )
Sumber : http://anggaz.wordpress.com



READMORE