Translate

Tampilkan postingan dengan label KEPELATIHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEPELATIHAN. Tampilkan semua postingan

TES DAN PENGUKURAN KONDISI FISIK

TES DAN PENGUKURAN
STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KONDISI FISIK

DEFINISI
- TES : alat atau instrumen yang digunakan untuk  mendapatkan informasi/ data tentang individu/ obyek
- PENGUKURAN : proses pengumpulan informasi/ data yang dilakukan secara obyektif
- EVALUASI : proses pemberian nilai/ harga dari data yang terkumpul
  Evaluasi merupakan kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus dari setiap program karena tanpa evaluasi sulit untuk mengetahui kapan, dimana dan bagaimana perubahan-perubahan akan dibuat.


KRITERIA TES
- Kesahihan (validitas )
Alat untuk mengukur objek dengan tepat dan sesuai dengan gejala yang diukurnya
- Keterandalan ( reliabilitas )
Jika alat ukur itu mantap; ajeg artinya alat ukur tsb dalam pengukuran yang berulangkali pada objek yang sama menghasilkan ukuran sama
- Obyektivitas
Keobyekan menunjukkan kesamaan hasil yang diberikan oleh 2 orang/lebih pengetes terhadap obyek yang sama.
Ekonomis, sederhana, mempunyai norma,

TES DAN PENGUKURAN 
STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KONDISI FISIK

Tes dan Pengukuran dapat menentukan respon fisiologis atlit terhadap latihan , dan juga dapat :
- Menemukan kelemahan dan menunjukan keterbatasan, ketidakseimbangan atlit dalam melakukan pergerakan dasar.
- Memprediksi gerakan yang tidak sempurna/efesien.
- Memberikan masukan untuk bahan latihan dan membantu memprediksi potensi cedera.
- Menentukan karakteristik bagi atlit dalam  melakukan penampilan yang terbaik.
- Memberikan motivasi pada peserta latihan, agar terus berlatih secara maksimal.

TES DAN PENGUKURAN 
STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KONDISI FISIK


- Para pelatih kadang diminta menggunakan metode-metode ilmah untuk menghasilkan informsi/data baru melalui tes dan pengukuran.
- Namun dalam praktek, pelatih yang berhasil adalah pelatih yang menggunakan informasi/data itu untuk menyusun rencana latihan dan melaksanakannya dalam praktek kepelatihannya.
- Sudah barang tentu teknik tes dan pengukuran harus disesuaikan dengan sport specific dan informasi/data yang didapatkanya.

DESAIN TES KONDISI FISIK
Ada tiga bidang gerak utama dengan sumbunya yang sesuai. Setiap bidang gerak memotong badan dan membaginya menjadi ruas-ruas yang sama. Bidang gerak utama tersebut adalah :
- Bidang Sagital : Membagi badan  menjadi ruas kiri dan ruas kanan.
- Bidang Frontal : Membagi badan menjadi badan menjadi bagian depan dan bagian belakang.
- Bidang Transversal : Membagi badan menjadi separuh bagian atas dan separuh bagian bawah.

STRENGTH ?
  Kekuatan adalah istilah generik yang digunakan untuk menggambarkan banyak kemampuan berbeda. Contoh 'kekuatan' adalah sebagai berikut:

Kekuatan Daya tahan - kemampuan untuk memindahkan resistensi yang ringan salam periode waktu yang panjang

Kekuatan Dinamis Absolut - kekuatan otot maksimum yang dapat menghasilkan dan berlaku untuk membuat gerakan

Kekuatan Statis Mutlak - kekuatan otot maksimum yang dapat
menghasilkan dan menerapkan tanpa menghasilkan gerakan.

Reaktif Kekuatan - kekuatan otot maksimum yang dapat diterapkan dalam merespon kekuatan dalam arah yang berlawanan

Power - yang kebanyakan orang bingung dengan 'kekuatan', namun sebenarnya adalah kekuatan dinamis absolut dikali dengan kecepatan dapat diterapkan.
  Jelas bahwa berbagai aktivitas / olahraga membeutuhkan  'kekuatan', berbeda ‘ dan kekuatan' perlu metode-metode pelatihan yang berbeda.

TES & EVALUASI STRENGTH
1.Core Muscle Strength and Stability Test
2.Curl Up Test
3.Canadian Crunch Test
4.Sit Ups Test
5.Jumps Decathlon]
6.Leg Strength Test
7.Standing Long Jump Test
8.Sprint Bound Index Test
9.Sergeant Jump Test
10.Chin Up Test
11.Grip Strength Test
12. Medicine Ball Javelin Quadrathlon
13. Press-ups Test
14. Bench Press Test
15. Universal Bench Press Test
16. Metronome Bench Press Test
17. Overhead Press Test
18. Leg Press Test
19. Leg Curl Test
20. Dynamic Knee Extension Test
21. Biceps Curl Test
22. Squats Test
23. Handgrip Strength Test
24. Flexed Arm-Hang Test
25. Wall Squat Test
26. The McCloy Physical Fitness Test
27. The Quadrathlon
28. The Wilf Paish Rugby Football Tests

DESAIN TES 
KONDISI FISIK
Tes Kondisi Fisik ini mengarah pada aplikasi fungsional gerak/fuctional movement dengan menggunakan komponen kekuatan, daya tahan, kecepatan, ketangkasan dan tenaga secara simultan menjadi dominan. Namun tetap belum mengkaji terhadap sport specificnya sendiri.  


TEST FISIK UNTUK OLAHRAGA MARTIAL ARTS

No. Bagian Bentuk Test Keterangan
1 Upper body strength Chin Ups =>3 Reps
2 Torso and abdominal strength endurance Hover Circuit 2 min dan 1 min
3 Upper/Lower body strength Crocodile Walk 10 m
In Lunge 10 m/30%xBW
4 Upper body power endurance Crocodile Throw 10 m/Laki-laki
5 Lower body power Standing long jump =>2.5 m/Male
=>2 m/Female
6 Speed Agility 3 x 2 m =>3 Sc
7 Agility Endurance Jumps Test 30 Sc =>60 Reps
8 Flexibility Sit & Reach => 10 Cm
9 Endurance Lari 2 Km =< 10 Menit
10 Lower Body Strength Endurance Single Leg Squat

Sumber : Materi Pelatihan Strength and Conditioning
READMORE
 

PRINSIP PRINSIP LATIHAN


Tujuan Training : tujuan serta sasaran utama dari latihan atau training adalah untuk membantu atlet  meningkatkan keterampilan  dan prestasinya semaksimal mungkin.

Empat aspek yang perlu diperhatikan dalam sebuah latihan :

a. Latihan fisik (Physical training)
b. Latihan teknik (technical training)
c. Latihan taktik (tactikel training)
d. Latihan mental (psychological training)

Perkembangan kondisi fisik yang menyeluruh amatlah penting, oleh karena tanpa kondisi fisik yang baik tidak akan dapat mengikuti latihan-latihan dengan sempurna.

Latihan teknik adalah latihan yang khusus dimaksudkan guna membentuk dan memperkembangkan kebiasaan-kebiasaan motorik atau perkembangan neuromuscular. Kesempurnaan teknik-teknik dasar dari setiap gerakan adalah penting oleh karena akan menentukan gerak keseluruhan.

Tujuan latihan taktik adalah untuk menumuhkan perkembangan interpretive atau daya tafsir pada atlet. Teknik-teknik gerakan yang telah dikuasai dengan baik, kini haruslah dituangkan dan diorganisri dalam pola-pola permainan, bentuk dan formasi permainan serta strategi dan taktik pertahanan atau penyerangan sehingga berkembang menjadi suatu kesatuan gerak yang sempurna.

Latihan mental adalah latihan yang menekankan pada perkembangan kedewasaan (maturitas) atlet serta perkembangan emosional dan impulsif : semangat, pantang menyerah, sabar, sportivitas, percya diri, jujur dan sebagainya.



BATASAN SEDERHANA TRAINING :

Proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah b eban latihan atau pekerjaannya
Sitematis : berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu, metodis dari mudah kesukar, latihan yang teratur, dari sederhana ke yang lebih kompleks.Berulang ulang : agar gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah, otomatis, dan reflekKian hari maksudnya setiap kali, secara periodik, segera setelah tiba saatnya untuk ditambah bebannya, jadi bukan berarti harus setiap hari.


Overload Principle

Sistem faali tubuh manusia pada umumnya mampu untuk menyesuaikan diri dengan beban kerja dan tantangan yang lebih berat dari beban yang kita jumpai sehari-hari. Dalam olahraga, agar prestasi dapat meningkat, atlet harus berusaha untuk berlatih dengan beban kerja yang lebih berat daripada yang mampu dilakukannya saat itu atau dengan perkataan lain, dia harus senantiasa berusaha untuk berlatih dengan beban kerja yang ada diatas ambang rangsang kepekaannya.

Pada permulaan berlatih dengan beban latihan yang lebih berat. Pasti atlet akan menemui kesulitan-kesulitan, oleh karena tubuh belum mampu untuk menyesuaikan diri dengan beban yang lebih berat tersebut. Akan tetapi apabila latihan dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, maka suatu ketika beban latihan (yang lebih berat) tersebut akan dapat diatasinya, malah kemudian akan terasa menjadi semakin ringan.


Peningkatan beban yang terus menerus ini diistilahkan dengan progresive overloading.Satu hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan sistem overload ini adalah. Jangan memberikan beban latihan yang terlalu berat yang diperkirakan tidak mungkin akan dapat diatasi oleh atlet. Kalau beban latihannya terlalu berat, maka sistem faaliah dalam tubuh kita tidak akan mampu untuk menyesuaikan diri dengan stres-stres yang terlalu ekstrim tersebut.

Setiap atlet harus mengalami stress dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melawan dan mengatasi stress yang dijumpai atau yang sengaja diberikan oleh pelatihnya. Beban latihan yang diberikan pada setiap kali berlatih haruslah senantiasa sedikit lebih berat dari pada yang kini mampu dilakukannya. Dengan demikian maka ambang rangsang atlet tersebut sedikit demi sedikit akan dapat dinaikan yang berarti pula penaikkan prestasinya.





Setiap tangga disebut micro-cycle
Jumlah setiap 3 tangga disebut macro-cycle
Setiap macro-cycle didahului oleh fase regenerasi atau unloading phase
Setiap micro-cycle bisa berlangsung untuk selama dua atau tiga minggu, tergantung berat ringannya beban latihan dan kompleks tidaknya teknik dan taktik yang harus dipelajari. Demikian pula tergantung dari adapatasi atlet terhadap beban latihan yang lebih berat tersebut.

Menurut Harre (1982), macro-cycle adalah suatu siklus latihan jangka panjang yang bisa memakan waktu 6 bulan, satu tahun, sampai beberapa tahun: mesco-cycle lamanya antara 3-6 minggu, dan micro-cycle kurang dari 3 minggu, bisa 1 atau 2 minggu.

Setiap komponen kondisi fisik berbeda tempo perkembangannya.

1)Fleksibilitas 2 - 3 hari
2)Kekuatan  2 - 4 minggu
3)Daya tahan 1- 2 tahun


Sumber : Materi turba Persinas ASAD Jawa Barat







READMORE
 

5 Tips Mendukung Anak Berprestasi Dalam Bidang Olahraga


 Apakah si kecil sangat menyukai olahraga, entah itu pencak silat, renang, sepakbola atau basket? Jika iya, sebagai orangtua Anda tentu perlu mendukungnya selama yang dilakukannya positif. Apalagi jika ternyata anak menunjukkan kemampuannya pada bidang tersebut.

Atlet senam asal Amerika Serikat Nastia Liukin, memberikan beberapa tipsnya untuk Anda para orangtua yang ingin mendukung si kecil terus berprestasi di bidang olahraga. Peraih medali emas olimpiade Beijing itu merasa orangtua punya peranan penting untuk mewujudkan harapan atau
cita-cita anak.

Nastia sendiri memulai karirnya sebagai atlet senam sejak usia tiga tahun. Perkenalan dininya dengan cabang olahraga tersebut tidak lain karena keduaorangtuanya juga atlet senam.

Berikut ini saran dari atlet senam cantik keturunan Rusia-Amerika ini:

1. Dorong Anak untuk Memiliki Cita-cita yang Tinggi
"Aku selalu memiliki cita-cita yang tinggi dan itu tidak pernah terlalu awal (untuk dimulai)," ujar Nastia. "Ada banyak anak-anak perempuan dan laki-laki yang akan menonton Olimpiade musim ini dan jika orangtua melihat ada ketertarikan pada anak, mereka (orangtua) sudah pasti harus mendukungnya," ujar wanita berusia 22 tahun itu.

2. Bantu Anak untuk Tetap Fokus - Dengan Cara yang Menyenangkan
"Aku selalu memberikan nasihat bagaimana agar tujuan tercapai yaitu dengan memvisualisasikannya," tutur Nastia. Dia sendiri selalu membayangkan medali yang akan diraihnya ketika mengikuti Olimpiade Beijing. Dan dia berhasil mendapatkan lima medali. "Ini adalah sesuatu yang selalu aku lakukan. Dengan memvisualisasikannya membantuku untuk tetap fokus pada apa yang ingin aku capai," katanya.

3. Tetapkan Tujuan Jangka Pendek dan Panjang
"Selalu buat tujuan untuk anak-anak," jelas Nastia. "Tujuan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Anak harus bekerja keras untuk meraih sesuatu yang ingin dicapainya. Dan sangat penting untuk  menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Sukses tidak terjadi dalam semalam dan kamu harus bekerja keras untuk itu, setiap hari," tambah wanita yang mengikuti kompetisi nasional di usia 12,5 tahun itu.

4. Bantu Anak Menyeimbangkan Olahraga dengan Aktivitas Lainnya
"Orangtuaku lebih peduli dengan siapa aku bersosialisasi, ketimbang apa yang aku sudah capai sebagai seorang atlet senam," ujarnya. Menurutnya memang sedikit sulit untuk tetap memiliki kehidupan sosial di luar senam.

"Aku ingat ada masa ketika teman-temanku melalukan sesuatu atau pergi ke suatu tempat dan aku tidak bisa ikut karena harus berlatih keesokan harinya pukul 8. Untuk banyak orang, berkompetisi di Olimpiade merupakan kesempatan sekali seumur hidup, jadi kesempatan itu harus diambil dan lakukan yang terbaik. Tapi di akhir pekan, aku selalu meluangkan waktu untuk hangout dengan teman dan melakukan aktivitas lain di luar senam,"
urainya.

5. Pastikan Memang Anak yang Ingin Berprestasi di Olahraga, Bukan Orangtuanya
"Sangat penting untuk memastikan bahwa memang anak perempuan atau laki-laki Anda punya passion pada olahraga, apakah itu senam atau olahraga lainnya," jelas Nastia.

"Terkadang ada orangtua yang ingin melihat anaknya menjadi juara Olimpiade ketimbang anak itu sendiri. Disitulah itu menjadi masalah dan sayangnya kemungkinan besar tidak akan sukses. Tidak akan berhasil jika anak tidak ingin melakukannya. Hal terpenting yang orangtua bisa lakukan adalah hanya dengan memberi dukungan, mendorongnya dan mencintai anak," pungkasnya.

from http://wolipop.detik.com/ (dengan beberapa tambahan)
READMORE