IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
21 Februari 2011 pukul 8:49
IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
ANTARA KEMBANG DAN BUAH
“Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah”
Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
17 Februari 2011 di Universitas Indonesia
1. Pendahuluan
Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘
buah’ atau ‘
eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘
kembang’ (bunga) atau ‘
ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (
kembang),
hingga banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata
pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.
Istilah
Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca
dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat
di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak,
karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya,
yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya
diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih
menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki
fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga
mengandung unsur-unsur keindahan.
Ada sebagian orang berpendapat
bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan
sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada
juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat,
melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan
tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius
dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing
Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan
alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak
membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun
dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.
Dari sinilah timbul
persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau
hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran
beladiri.
2. Pencak Silat dan Tari
Pencak
silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir,
hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak
silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun
dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber
keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan
serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.
Pencak silat
dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi,
karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di
samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu
melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik
dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari
yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar
sekali manfaatnya bagi seorang penari.
Persamaan Pencak dan
tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari
anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan
ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak
silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri,
sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan
yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir
karena tradisi atau dari jiwa para seniman.
Pembinaan tubuh dan
penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu
dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik
merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan
gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat
dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan
berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus
dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.
Keindahan
langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan
ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak
silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai
beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.
3. Asal Mula Ibing Penca
Sejak
kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini
memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan
bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang
dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada
saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur
pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga
untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh
diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan
beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus
tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain
pendapat ini belum tentu tepat.
Pada awalnya aspek pencak silat
yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu
masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri
dengan alam dan lingkungannya, naluri untuk menjaga eksistensi diri dan
kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari
kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan
alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan
menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang
mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh
suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran
pencak silat.
Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri
mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai
keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu
menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia
menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu
pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami
adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian.
Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat
keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi
membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah
dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan
sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti
aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia
tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui
medium gerak.
Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi
kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi
pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda
Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka
gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari
jurus-jurus pencak silat
Banyak koreografer tari yang memiliki
latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri,
maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan
dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi
jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia)
Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua
semester.
Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian
lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis
disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni
menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi
perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca,
tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari ilmu pencak silat.
Jika kita melihat berbagai jenis aliran
pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing
penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya
aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada
aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah
ada beladiri pencak silat.
Seni Ibing Penca tumbuh subur
berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai
contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi
Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur
melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga
Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo.
Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan
hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup
pada masa itu.
Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur
yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan
kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah
Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari
berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan
dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi
berbagai bentuk ibing penca.
Ibing penca dapat berkembang di
perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya
pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari
segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun
dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan
pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah
mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan
tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu
perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap
dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian
dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas
perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk
pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.
4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca
Di
dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya
jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama
harus dibedakan terlebih dahulu antara
Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan
Jurus Kajadian.
Gerak Dasar
adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika
seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan
tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak
dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.
Jurus Dasar
adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan
atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar
bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga
berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi
dua, yaitu:
Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat
prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran
atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana
aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya
jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang
sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh,
aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar
Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.
Jurus Kajadian,
yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang
bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh
dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari
jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan
metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager
Kancana, dan Budhi Kancana.
Dari Jurus Inti sebenarnya bisa
dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti
tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd.
Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia
menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian
menciptakan
27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan
untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan
mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti
aplikasi dari setiap jurusnya.
Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah
rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi
unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap
gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk
teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan
dengan lawan.
5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat
a. Koreografi Ibing Penca
Sikap
dan gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk
melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan
gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama
karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami
kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada
beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan
gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan
dalam irama yang metrikal.
Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:
1) Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.
2) Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.
3) Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.
Berdasarkan
koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang
kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki
gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang
sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer
dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.
Koreografi bagian
pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari
aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok
dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:
- Tepak Dua Salancar
- Tepak Dua Sorong Dayung.
- Tepak Dua Buang Kelid.
- Tepak Dua Kampung Baru
- Paleredan Jalak Pengkor
- Paleredan Sawitan
- Paleredan Pancer Opat
Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:
- Tepak Tilu Cikalong
- Tepak Tilu Jalan Muka
- Tepak Tilu Alip Bandul
- Tepak Tilu Peunggasan
- Tepak Tilu Gerak Seta
Koreografi
bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang
memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan
yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat
improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan
yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya
adalah sebagai berikut:
- Si Pecut
- Pecah Alip
- Pecah Gunting
- Likuran
- Si Pitung
Saat
ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari
aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain.
Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat
seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang
perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam
aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:
Pertama,
unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus
yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya,
sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila
tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat.
Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya,
unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting
pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai
dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian
dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.
Kedua,
unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek
seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca
harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan
irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang
pesilat dalam membawakan ibingannya.
Ketiga, unsur penjiwaan gerak
(wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang
pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh
pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh
karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak
silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari
jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.
b. Karawitan
Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti
Patingtung di Banten, dan
Terebang
di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan
suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat
mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang
atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana
menantang misalnya pada lagu
Kembang Beureum atau
Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada
Kidung.
Gendang
pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka
mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang
pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing
pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi
gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.
Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:
- Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
- Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
- Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.
Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:
- Tepak Dua.
Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya
dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang,
Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
- Paleredan.
Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya
dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung,
Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
- Tepak Tilu. Motif-motif
pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah:
Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit,
Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong
Bangkong.
- Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
- Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.
6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?
Penempatan
pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang
ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya
proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi
ibing penca adalah sebagai berikut:
- Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
- Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
- Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
- Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
- Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)
Penempatan
materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih
disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing
penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat
mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan
dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun
PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan
sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan
dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.
Penempatan materi
ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat
digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus
ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca
sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang
melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk
ke gelanggang untuk mencoba keterampilan berkelahi dengannya.
Namun
ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan
mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin
mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai
contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6
dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan
dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka,
kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin
mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari
aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya
sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik
beladiri.
Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan
oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya
dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan
berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika
ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran
kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik
usik-usikan atau
tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).
7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri
Apakah
ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat
yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan
pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang
hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan
bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.
Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan
jurus ganda
dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan
baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau
peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam
ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya
untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).
Ibing
penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki
perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang
pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri.
Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik
beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri
belum tentu bisa ibing penca atau ganda.
Namun apabila
masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling
mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan
mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik
pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta
tiba-tiba menjadi
jagjag waringkas ketika mendengar kendang
penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika
selesai membawakan ibingannya.
Dengan ganda pesilat belajar
perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan.
Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih
timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita
dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun.
Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan
lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.
Sebenarnya di
dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari
jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi
memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya,
yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang
pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui
tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula
dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.
Di
Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat
Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa
melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah
mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka
mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam
ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya
mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah.
Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu
bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka
kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu
maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan
pembelaan diri dengan baik.
Pesilat yang telah mengetahui
aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati
setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara
leuleus (lemas/rileks) dan
teuas
(keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan
lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah
sedang menghadapi lawan.
8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat
Pada
umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu
ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang
besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan
mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong
kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan
kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada
empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.
Karawitan
pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis.
Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku,
tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa
waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak
lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.
Pada tahun 1970-an
muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran
yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun
menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan
dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil
karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada
saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan
seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi
suling.
Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi
Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik
Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena
Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik
cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.
Pemahaman wirama
ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong
dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam
Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak
harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut
unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan
satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus
dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.
Yang
tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu
cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda
tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat
menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya
dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang
bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang
ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria,
mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari
seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik
akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih
mantap dalam membawakan tariannya.
Menurut Adung Rais, bila sudah
memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa
dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi
perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.
Sekitar
tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang
termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak
Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar
belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional
yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah
satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca.
Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada
para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru
dalam iringan musik pencak silat.
Permintaan itu direspons dengan
berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa
seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang
tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang
memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang
dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang
penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama
gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek,
bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu
dipakai juga kacapi dan suling.
Walaupun pada awalnya Tepak
Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak
silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat
anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk
mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.
Munculnya Tepak
Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap
sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah
di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena
penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak
silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah
menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.
9. Penutup
Ibing
penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak
silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil
dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan
pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika
secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu
patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi
dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan
kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak
usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin
mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan
menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama
tertentu.
Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya
akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan
mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni
budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.
Graspuzi 16022011
Lampiran:
Metode latihan khusus ibing penca di Garis Paksi
Berikut
ini adalah deskripsi latihan ibing penca metode Garis Paksi. Metode
ini diperuntukkan bagi yang ingin langsung mempelajari ibing penca.
Untuk mempercepat proses belajar mengajar, selain dibimbing langsung
oleh pelatih pada saat latihan, juga disediakan sarana pendukung yaitu
vcd visual dan cd audio sehingga bisa dipelajari di luar jadwal latihan
reguler.
Tidak seperti cara yang digunakan di perguruan pencak
silat pada umumnya, metode Garis Paksi menggunakan musik pengiring
“kendang penca” sejak awal materi diberikan. Siswa yang baru belajar
langkah atau jurus dasar sudah diiringi oleh musik. Di samping untuk
memperkenalkan berbagai irama pencak silat sejak dini, juga membawa
suasana yang kondusif dalam berlatih.
- I. GERAK DASAR PENCAK SILAT
(VCD Visual: Track 1, CD Audio: Track 1)
Terdiri
dari 12 jenis kuda-kuda dilengkapi sikap tangan yang membentuk sikap
pasang. Disusun berupa rangkaian gerak sehingga dapat juga digunakan
untuk melatih langkah.
- Sajajar – Nutup
- Gilir – Giles
- Soja – Kelid
- Serong – Bendung
- Gesoh – Salin
- Depok – Muka
- Gesoh nukang – Salin
- Depok nukang – muka
- Rincik – Giles
- Gantung – Muka
- Deku – Sedok
- Gigir – Selup
II. DASAR IBING PENCA
Selanjutnya
dipelajari dasar-dasar Ibing Penca yang terdiri dari bagian-bagian
atau unsur yang terdapat dalam Ibing Penca. Pada umumnya dalam Ibing
Penca terdapat dua jenis gerakan, yaitu Gerak Pokok dan Interval. Gerak
Pokok secara tegas berisi gerak serang bela, sedangkan interval adalah
gerak penghubung dari satu gerak pokok ke gerak pokok berikutnya,
biasanya lebih kental unsur tari-nya, meskipun tetap menggunakan kaidah
pencak silat.
Untuk mempelajari Gerak Pokok, maka diajarkan materi sebagai berikut:
- Gerak Hiji, yaitu satu gerak menggunakan pola langkah tertentu, diakhiri dengan gerak penutup.
- Gerak Dua, yaitu kombinasi dua gerak menggunakan pola langkah tertentu, diakhiri dengan gerak penutup.
- Gerak Tilu, yaitu kombinasi tiga gerak menggunakan pola langkah tertentu, diakhiri dengan gerak penutup.
- Gerak Opat, yaitu kombinasi empat gerak menggunakan pola langkah tertentu, diakhiri dengan gerak penutup.
Interval, terdiri atas:
- Mincig muter dan nguriling (berputar dan berkeliling)
- Mincig opat juru (empat penjuru)
- 3. Limbung Dalapan
A. GERAK HIJI
(VCD Visual: Track, CD Audio: Track 2)
Jurus 1
- Pola langkah : Dalapan juru
- Gerak inti : Jeblag
- Gerak panutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal.
Jurus 2
- Pola langkah: Soja maju malik
- Gerak inti : Sogok
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 3
- Pola langkah: Soja maju mundur
- Gerak inti : Kepeng tonjok
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 4
- Pola langkah: Serong maju malik
- Gerak inti : Salin
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 5
- Pola langkah: Serong maju mundur
- Gerak inti : Sambut
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 6
- Pola langkah: Opat Pancer
- Gerak inti : Giles
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 7
- Pola langkah: Opat Pasagi
- Gerak inti : Potong siku
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
B. GERAK DUA
(VCD Visual: Track 3, CD Audio: Track 3)
Jurus 8
- Pola langkah: Soja maju malik
- Gerak : Kebut – bandul
Jurus 9
- Pola langkah: Soja maju mundur
- Gerak : Kocet – jeblag
C. GERAK TILU
(VCD Visual: Track 4, CD Audio: Track 4)
Jurus 10
- Pola langkah: Soja gesoh
- Gerak: Tarik – tajong – peupeuh
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 11
- Pola langkah: Opat pancer
- Gerak: Kepeng – bandras - tonjok
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
D. GERAK OPAT
(VCD Visual: Track 5, CD Audio: Track 5)
Jurus 12:
- Pola langkah: Serong maju mundur
- Gerak: Salin – sambut – kepeng tonjok – dengkul
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
Jurus 13:
- Pola langkah: Opat Pasagi
- Gerak: Pegung – totog – kebut – bandul
- Gerak penutup : Kepeng – tonjok – giles – sikap awal
III. MINCIG DAN LIMBUNG
(VCD Visual: Track 6)
A. MINCIG MUTER + NGURILING
(CD Audio: Track 6)
B. MINCIG OPAT JURU
(CD Audio: Track 7)
C. LIMBUNG DALAPAN
(CD Audio: Track 8)
IV. CONTOH IBING PENCA
(VCD Visual: Track 7, CD Audio: Track 9)
Setelah
menguasai dasar ibing penca maka dilanjutkan dengan rangkaian Ibing
Penca yang sudah lengkap. Untuk pemula diberikan Ibing berirama Tepak
Tilu dan Padungdung.
1. TEPAK TILU
A. Gerak Pokok 1:
- Maju kanan serong
- Maju kiri gilir kiri – pasang giles kanan
- Maju kanan soja – sambut kiri
- Siku kanan
- Peunggasan kanan
- Peupeuh kanan
- Mundur Gilir kanan – suay
- Maju kiri soja – sogok bareng
- Kocet
- Jeblag
- Luncat kanan
- Maju kiri soja – deku jambret
- Giles kiri
- Ajeg kiri – siku kanan
- Mundur kiri soja – kebut kiri
- Bandul kanan
- Mundur silang kanan – tungkup
- Mundur kiri serong – potong siku kanan
- Mundur kanan serong – giles kiri
- Hadap depan – gesoh kiri – takis kiri
- Tajong kanan
- Maju kanan soja – peupeuh kanan
- Gesoh kanan – salin kiri
- Soja kiri gebrig – teundeut
- Mundur gilir kiri – tewak kiri
- Deku kanan – giles potong kanan
- Sapu kanan
- Maju kanan soja – kepeng tonjok kanan
- Takis kanan
- Catok kanan
- Malik balang
- Maju kanan soja – nutup
- Malik – kepeng tonjok kanan
- Giles kiri
- Rincik kiri
- Tajong kiri
B. Interval
- Lengkah Dua Belas (12 hitungan)
- Mincig di Tempat (4 hitungan)
- Limbung Dalapan (8 hitungan)
- Mincig di Tempat (4 hitungan)
C. Gerak Pokok 2 (20 hitungan)
- Gesoh kiri – takis kiri
- Maju kanan soja – peupeuh kanan
- Mundur geser – kocet dengkul
- Mundur kanan deku – tepis kanan
- Tajong kanan
- Maju kanan soja – peupeuh kanan
- Kebut kiri
- Bandul kanan
- Gantung kanan – bandras kanan
- Mundur – luncat muter
- Malik soja – sodok kanan
- Reunteut – tilep kanan
- Malik gesoh kanan – takis kanan
- Ajeg – kepeng kanan
- Maju kanan serong – sambut handap kiri
- Maju kiri soja – kepeng kiri
- Tonjok kanan
- Giles kiri
- Rincik kiri
- Tajong kiri
D. Interval
- Mincig di Tempat (4 hitungan)
- Limbung Dalapan (8 hitungan)
- Mincig di Tempat (4 hitungan)
E. Gerak Pokok 2 (20 hitungan)
- Gesoh kiri – takis kiri
- Maju kanan soja – peupeuh kanan
- Mundur geser – kocet dengkul
- Mundur kanan deku – tepis kanan
- Tajong kanan
- Maju kanan soja – peupeuh kanan
- Kebut kiri
- Bandul kanan
- Gantung kanan – bandras kanan
- Mundur – luncat muter
- Malik soja – sodok kanan
- Reunteut – tilep kanan
- Malik gesoh kanan – takis kanan
- Ajeg – kepeng kanan
- Maju kanan serong – sambut handap kiri
- Maju kiri soja – kepeng kiri
- Tonjok kanan
- Giles kiri
- Rincik kiri
- Tajong kiri
F. Interval
- Mincig di Tempat (4 hitungan)
- Limbung Dalapan (8 hitungan)
- Limbung Panutup (10 hitungan)
2. Padungdung (Irama Bebas)
- Maju kanan serong
- Maju kiri gilir kiri – pasang giles kanan
- Maju kiri soja – tepak kiri
- Pasang kelid kanan
- Tewak kiri
- Timpug kanan
- Takis kanan
- Gesoh kanan – sedok kanan
- Maju kiri soja – tomplok kanan
- Sambut kiri
- Tilep teundeut kiri
- Taplek kanan
- Maju kanan soja siku kanan
- Gesoh sambut kiri
- Mundur tarik
- Gesoh deku – peupeuh kanan
- Maju kanan – giles kanan
- Luncat muntir
- Mundur tewak kiri
- Timpah kanan
- Pasang muka.
Bandung, 16 Februari 2011
Gending Raspuzi, SH
Lembaga Pewarisan Pencak Silat GARIS PAKSI
Website: www.garispaksi.com
E-mail: garispaksi@gmail.com
RIWAYAT HIDUP
Nama :
Gending Raspuzi
Tempat, tanggal lahir : Tasikmalaya, 9 Februari 1965
Alamat : Jl. Gegerkalong Tengah No. 93, Bandung – 40153
A. Pengalaman Mempelajari Pencak Silat
Mempelajari pencak silat sejak 1976 dari beberapa perguruan dan aliran pencak silat, di antaranya:
- Himpunan Pencak Silat Panglipur, dari Drs. M. Saleh
- Perguruan Pencak Silat Manderaga, dari Drs. Agus Iim Suryana, M.Sc
- Perguruan Pencak Silat Pager Kancana, dari Odid Supardi
- Perguruan Pencak Silat Budhi Kancana, dari Suherman
- Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka, dari Iyat Ruchiyat
- Perguruan Pencak Silat Sanalika, dari Umar Suryana, Ageung, Nandar
- Aliran Pencak Silat Cimande, dari H. Darwis dan H. Ishak
- Aliran Pencak Silat Cikalong, dari Abdur Rauf, R.E. Harun
- Aliran Pencak Silat Sabandar, dari Tb. Atje Setrawijaya
- Aliran Pencak Silat Makao, dari Ki Arba dan Ki Asnawi
- Aliran Sera, dari Dadang Usman
- Aliran Seni Beladiri Timbangan, dari R. Muhyidin Anggakusumah dan A. Basari
- Jurus Kajadian Maenpo, dari R. Memed.
- Maenpo Peupeuhan, dari Djadja Wijayakusumah
- Jurus Prasetya, Jurus Tunggal, Jurus Regu dari PB IPSI
B. Jabatan di Organisasi dan Pengalaman sebagai Pelatih/Juri/Penatar Pencak Silat
- Pelatih Seni Beladiri Pencak Silat Pengda IPSI Jawa Barat periode 1995 – 1999
- Pelatih Pencak Silat Seni Tradisi Pengda IPSI Jawa Barat periode 2000 – 2004
- Wasit/Juri Pencak Silat di Pengda IPSI Jawa Barat periode 1995 – 1999.
- Ketua Dewan Pelatih di Perguruan Pencak Silat Manderaga (sejak 1985).
- Pelatih Kepala di Perguruan Pencak Silat Sabrang Girang sejak tahun 1990.
- Pendiri dan Pelatih Utama di Lembaga Pewarisan Pencak Silat – GARIS PAKSI (1997)
- Pelatih Utama di Himpunan Pencak Silat Panglipur Pusat sejak 2002.
- Pendiri dan Pembina Utama di Perguruan Pencak Silat PAKSI (2007)
- Ketua Bidang Litbang di Himpunan Pencak Silat Panglipur Pusat (sejak 1997).
- Koordinator Seminar dan Latihan Seni Beladiri di Majalah Duel (sejak 2000).
- Pendiri Forum Komunikasi Seniman Beladiri Indonesia (Fukaseba), Jakarta. (2000).
- Litbang Forum Silaturahmi Pencak Silat Cianjur.
- Anggota Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Budaya Paguyuban Pasundan (2007).
- Pembina/Pelatih Cabang Panglipur Geger Layung (2002)
- Dosen Luar Biasa di STSI Bandung (2003)
- Ketua Litbang Pengda IPSI Jawa Barat periode 2004 – 2008
- Pelatih Pencak Silat Pelatda Jawa Barat setiap menghadapi PON sejak tahun 1995.
- Pelatih dan Peserta Festival Pencak Silat Nusantara di Malaysia tahun 1995.
- Penatar pada Penataran Pelatih, Wasit dan Juri ke berbagai daerah di Jawa Barat sejak 1995.
- Instruktur Pencak Silat pada Diklat Seni Beladiri Jurus dan Duel (2000).
C. Pengalaman sebagai Penulis & Karya
- Penyusun Buku Kesenian bidang Pencak Silat untuk Guru SD dan SLTP (1994)
- Narasumber buku “Tuturan Pencak Silat dalam Tradisi Lisan Sunda” Yus Rusyana (1996)
- Narasumber buku “Pencak Silat Merentang Waktu” karya Oong Maryono (1998).
- Pemakalah pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) di Bandung (2001)
- Redaktur Tabloid Seni Beladiri Kanuragan (1999)
- Redaktur Majalah Seni Beladiri Jurus (1999 – 2000)
- Redaktur Majalah Seni Beladiri Duel (2000 – 2003)
- Penulis artikel di beberapa media cetak seperti koran Galura dan Pikiran Rakyat.
- Penata Gerak&Peraga Diajar Penca VCD Metode Belajar Mudah Seni Pencak Silat (2000)
- Penata Gerak Pagelaran Pencak Silat “Jejak Kahir” di STSI Bandung (2004)
- Penata Gerak Pagelaran Pencak Silat “Kemprung Padungdung” GK Miss Tjitjih (2005)
Sumber : https://www.facebook.com/notes/gending-raspuzi/ibing-penca-dan-beladiri-pencak-silat/10150099930404719