Translate

Tampilkan postingan dengan label WAWASAN PENCAK SILAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAWASAN PENCAK SILAT. Tampilkan semua postingan

PRASETYA PESILAT INDONESIA

PENDAHULUAN
“Prasetya Pesilat Indonesia”, yang terdiri dari 7 butir prasetya sebagai satu kesatuan, adalah kode etik korsa (corps) Pesilat Indonesia sebagai warga negara, pejuang dan kesatria dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Prasetya sebagai warga negara tertera dalam butir prasetya yang pertama dan kedua, sebagai pejuang dalam butir prasetya yang ketiga, keempat dan kelima, dan sebagai kesatria dalam butir prasetya yang keenam dan ketujuh. Rumusan “Prasetya Pesilat Indonesia” selengkapnya dan seutuhnya adalah sebagai berikut:
1. Kami Pesilat Indonesia adalah warga negara yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.
2. Kami Pesilat Indonesia adalah warga negara yang membela dan mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
3. Kami Pesilat Indonesia adalah pejuang yang cinta Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
4. Kami Pesilat Indonesia adalah pejuang yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan Bangsa.
5. Kami Pesilat Indonesia adalah pejuang yang senantiasa mengejar kemajuan dan berkepribadian Indonesia.
6. Kami Pesilat Indonesia adalah kesatria yang senantiasa menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.
7. Kami Pesilat Indonesia adalah kesatria yang tahan-uji dalam menghadapi cobaan dan godaan.
PENJELASAN UMUM
Dalam penjelasan ini, arti prasetya, yang artinya sama dengan ikrar, adalah pernyataan janji kepada diri sendiri untuk memenuhi serangkaian kewajiban. Arti Pesilat Indonesia adalah manusia Indonesia yang cinta, setia, berbakti dan mengabdikan dirinya pada Pencak Silat, menjadikan Pencak Silat sebagai kebanggaan dirinya dan sebagai sarana untuk membangun pribadinya, baik rohaniah maupun jasmaniah. Arti kode etik adalah rumusan singkat-padat dari serangkaian kewajiban-kewajiban luhur. Arti korsa adalah kelompok manusia yang senasib, seperjuangan dan setujuan serta berkeinginan untuk selalu bersatu dan berada dalam satu kesatuan yang solid berlandaskan semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Arti kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah kehidupan kelompok besar manusia yang dilandasi keinginan untuk berada dalam kebersamaan (Ernest Renant : le desire d’etre ensemble) di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)) yang berwilayah dari Sabang sampai ke Marauke.. Arti warga negara adalah manusia sebagai unsur terkecil negara yang wajib memberikan kontribusi positif secara maksimal dalam upaya untuk mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Arti pejuang adalah manusia yang pantang menyerah dan pantang mundur serta mengobsesikan kesuksesan dalam upaya untuk mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Arti kesatria adalah manusia yang selalu konsisten, konsekuen dan bertanggungjawab dalam menampilkan sikap, perbuatan dan perilakunya terutama dalam rangka upaya untuk mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni memelihara kekokohan persatuan Bangsa Indonesia, menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, menegakkan nilai-nilai moral agama dan moral sosial di kalangan pemimpin dan warga Bangsa Indonesia, mempertahankan jatidiri dan kepribadian Indonesia di tataran global serta mewujudkan keamanan yang mantap dan kesejahteraan sosial yang adil dan merata untuk seluruh Bangsa Indonesia.
“Prasetya Pesilat Indonesia” merupakan esensi dari “Nilai-nilai Luhur Pencak Silat Indonesia”, yakni nilai-nilai luhur yang terkandung dalam dimensi kejiwaan dan dimensi kejasmanian Pencak Silat sebagai satu kesatuan, yang sejiwa dengan nilai-nilai luhur falsafah Pancasila. Dimensi kejiwaan Pencak Silat adalah ajaran budi pekerti luhur, sedangkan dimensi kejasmanian Pencak Silat adalah berbagai teknik Pencak Silat yang saling tergantung dan saling berhubungan satu sama lain beserta kiat-kiat (kecakapan) untuk mengkinerjakannya.
Substansi “Prasetya Pesilat Indonesia” pada dasarnya adalah kewajiban-kewajiban mulia penting yang terpilih dari ajaran budi pekerti luhur yang wajib dihayati dan diamalkan serta ditegakkan oleh Pesilat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya sebagai warga negara, pejuang dan kesatria. Penghayatan substansi tersebut dilakukan dengan pembacaan, penghafalan dan pengucapan secara kontinyu dan konstan, khususnya dalam acara-acara penting yang diadakan dan dihadiri oleh Pesilat-Pesilat Indonesia. Penghayatan dengan cara seperti itu bertujuan untuk menamkan semangat “Prasetya Pesilat Indonesia” serta membangun jiwa kebangsaan dan ahlak (nation and character building) dan sekaligus juga untuk memperkokoh jiwa korsa (l’esprit de corps) Pesilat Indonesia.

Ajaran budi pekerti luhur adalah generalisasi (generalization) dan nama umum (general name) dari ajaran moral masyarakat lokal dan etnis di Indonesia yang cukup banyak jumlah dan ragamnya. Walaupun beragam, ajaran-ajaran moral itu mempunyai inti yang sama, yakni pandangan hidup dan wejangan arif-bijaksana kepada manusia dalam kaitan dengan pengolahan dan pembinaan budi pekertinya.

Menurut ajaran budi pekerti luhur, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Karena manusia berasal dari Tuhan, maka status manusia adalah mulia (insan kamil). Agar manusia dengan kemuliaannya itu dapat diterima oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya apabila pada waktunya nanti ia kembali atau pulang kepada Tuhan (berpulang ke Rahmatullah), maka selama hidupnya maupun dalam kehidupan dan perjalanan hidupnya ia wajib beriman teguh dan bertaqwa kepada Tuhan, yakni percaya dan berserah diri sepenuh-penuhnya kepada Tuhan serta melaksanakan ajaran-ajaran-Nya secara persisten, konsisten dan konsekuen. Niat (nawaitu) dan amalan-amalan hidupnya semata-mata karena Tuhan dan tujuan hidupnya adalah untuk mendapatkan ridho Tuhan. Manifestasi kejiwaan dalam wujud moral individual dari keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan itu adalah budi pekerti luhur. Dengan demikian, ajaran budi pekerti luhur adalah ajaran yang ber-Ketuhanan (religius).
Budi adalah dimensi kejiwaan dinamis manusia yang berunsur karsa, rasa dan cipta. Makna kata-kata itu adalah aktivitas kehendak, perasaan dan penalaran (willing, sensing and reasoning). Pekerti adalah ahlak (character). Luhur adalah mulia atau terpuji (nobel, high esteem). Dengan demikian, makna budi pekerti luhur adalah aktivitas kehendak, perasaan dan penalaran serta ahlak yang mulia berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan. Karsa menentukan keharusan dan larangan, rasa menentukan baik dan buruk, cipta menentukan benar dan salah. Karena itu, karsa berkaitan dengan mental-spiritual, rasa dengan emosi dan cipta dengan intelegensia (kecerdasan).
Ajaran budi pekerti luhur mewejang kepada manusia agar terus-menerus mengolah dan membina budi pekertinya secara optimal yang diarahkan pada perwujudan kearifan mental-spiritual (ahlak , moral), emotional dan intelegensial. Kearifan di sini berarti kemampuan memilah (membedakan) dan memilih (menentukan) secara benar dan tepat dalam kerangka usaha untuk mewujudkan suatu kemuliaan. Pengolahan dan pembinaan karsa bahkan harus diarahkan pada perwujudan kemanunggalan karsa manusia dengan Karsa Tuhan serta memposisikan, memfungsikan dan memerankan karsa sebagai pemimpin, pengarah dan pengendali rasa, cipta dan ahlak. Dengan cara demikian, semua amalan manusia akan berlandaskan pada kearifan dan akan selaras dengan Karsa Tuhan, yang berarti akan mendapat ridho Tuhan dan akan menjadikan manusia bernilai mulia di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Dengan demikian, ajaran budi pekerti luhur merupakan pandangan hidup dan wejangan tentang kearifan. Karena terwariskan dan harus senantiasa dijunjung tinggi oleh warga bangsa Indonesia, ajaran budi pekerti luhur yang religius itu berstatus sebagai pandangan hidup dan kearifan tradisional bangsa Indonesia.

Menurut ajaran budi pekerti luhur yang berlandaskan pada Ketuhanan, manusia dalam hidup, kehidupan dan perjalanan hidupnya mempunyai empat kedudukan mulia sebagai satu kesatuan. Yang pertama adalah kedudukan sebagai mahluk Tuhan, karena manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tuhan adalah asal dan tujuan hidup semua mahluk (Jawa : sangkan paraning dumadi). Yang kedua adalah kedudukan sebagai mahluk pribadi, karena setiap manusia mempunyai kepribadian (personality) tersendiri yang unik dan berbeda dengan manusia lain. Kepribadian merupakan karakteristik setiap manusia. Yang ketiga adalah kedudukan sebagai mahluk sosial, karena di dunia ini manusia tidak hidup sendiri tetapi hidup dalam masyarakat bersama-sama dan berinteraksi dengan manusia lain. Yang keempat adalah kedudukan sebagai mahluk alam semesta. karena manusia hidup di suatu lingkungan hidup yang merupakan bagian integral dari alam semesta beserta isinya (ecology) yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia sebagai karunia-Nya.
Untuk masing-masing kedudukannya itu manusia mempunyai kewajiban mulia (noblesse oblige) yang harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk Tuhan, adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan serta senantiasa menegakkan nilai-nilai Ketuhanan atau nilai-nilai agama. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk pribadi, adalah meluhurkan pribadinya dan senantiasa menegakkan nilai-nilai moral pribadi. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk sosial, adalah menegakkan perdamaian dan persahabatan serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sosial dan kultural. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk alam semesta, adalah mencintai dan mengamankan lingkungan hidupnya serta senantiasa menegakkan nilai-nilai natural-universal. Kewajiban-kewajiban itu saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Pemenuhannya diarahkan untuk mencapai satu tujuan, yakni mendapatkan ridho Tuhan.
Dalam hubungan dengan status, posisi dan kewajiban manusia, ajaran budi pekerti luhur mengandung tujuh visi, wawasan atau sikap pandang yang bersifat normatif dan imperatif untuk diaplikasikan dan diwujudkan, yakni wawasan Ketuhanan, kemanusiaan, perdamaian dan persahabatan, ketahanan, pembangunan, kejuangan dan kekesatriaan. Berdasarkan pada wawasan-wawasan tersebut, setiap pengamalan manusia (1) harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, (2) harus tidak melanggar etika kemanusiaan yang adil dan beradab (hak asasi manusia), (3) harus bersikap damai dan bersahabat dalam menghadapi siapa saja, (4) harus dapat mewujudkan ketangguhan dan keuletan mental dan fisikal dalam menghadapi berbagai kendala dan permasalahan, (5) harus dapat meningkatkan kualitas diri secara terus-menerus dalam rangka mengejar kemajuan, (6) harus bersikap pantang menyerah dan terus maju dalam perjuangan untuk mewujudkan tujuan yang mulia dan (7) harus senantiasa konsisten, konsekuen dan penuh rasa tanggungjawab dalam menampilkan sikap, perbuatan, tindakan dan perilaku serta tahan-uji dalam menghadapi segala cobaan dan godaan.
Ajaran budi pekerti luhur merupakan ukuran normatif dan imperatif (normative and imperative measures) manusia dalam hidup, kehidupan dan perjalanan hidupnya sehari-hari. Ukuran ini mengharuskan manusia untuk memiliki daya, kesanggupan dan ketahanan pengendalian diri yang kuat, yang dengan itu ia wajib mengendalikan kepentingannya. Mengendalikan diri bukan mengekang diri, tetapi menguasai, menempatkan, membawa, memfungsikan, memerankan dan mengarahkan diri dengan cara dan untuk tujuan yang mulia atas dasar kesadaran sendiri, rasa percaya diri dan niat yang mandiri. Dengan demikian, tujuan ajaran budi pekerti luhur adalah membentuk manusia yang mempunyai sifat taqwa, tanggap, tangguh, tanggon, trengginas.
Yang dimaksud dengan taqwa adalah beriman teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melaksanakan seluruh ajaran-Nya secara persisten, konsisten dan konsekuen, berbudi pekerti luhur, terus meningkatkan kualitas diri serta selalu menempatkan, memerankan dan memfungsikan dirinya sebagai warga masyarakat yang senantiasa mengendalikan diri, rendah hati dan berdedikasi (berpengabdian) sosial, berdasarkan rasa kebersamaan, rasa kerukunan, rasa perdamaian, rasa persahabatan, rasa kesetiakawanan, rasa kepedulian, rasa tanggungjawab sosial dan rasa tanggungjawab terhadap Tuhan.
Yang dimaksud dengan tanggap adalah peka, peduli, antisipatif, pro-aktif dan mempunyai kesiapan diri terhadap segala hal, termasuk perubahan dan perkembangan yang terjadi, berikut semua kecenderungan, tuntutan dan tantangan yang menyertainya, berdasarkan sikap berani mawas diri dan terus meningkatkan kualitas diri.
Yang dimaksud dengan tangguh adalah keuletan dan kesanggupan untuk mengembangkan kemampuan dalam menghadapi dan menjawab setiap tantangan serta mengatasi setiap persoalan, hambatan, gangguan dan ancaman maupun untuk mencapai sesuatu tujuan mulia, berdasarkan sikap pejuang sejati yang pantang menyerah.
Yang dimaksud dengan tanggon adalah mempunyai rasa harga diri dan kepribadian yang kuat, penuh perhitungan dalam bertindak, berdisiplin, selalu ingat dan waspada serta tahan-uji terhadap segala godaan dan cobaan, berdasarkan sikap mental yang teguh, konsisten dan konsekuen memegang prinsip.
Yang dimaksud dengan trengginas adalah enerjik, aktif, eksploratif, kreatif, inovatif, berpikir luas dan jauh ke masa depan, sanggup bekerja keras untuk mengejar kemajuan yang bermutu dan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, berdasarkan sikap kesediaan untuk membangun diri sendiri dan sikap merasa bertanggungjawab atas pembangunan masyarakatnya serta dorongan dan semangat untuk terus maju dan bermutu.
Perlu dan pentingnya memelihara budi pekerti luhur sangat disadari oleh Bapak-bapak pendiri (the founding fathers) Negara Kesatuan Republik Indonesia yang arif dan bijaksana serta berwawasan luas dan jauh ke masa depan. Dalam penjelasan mengenai pokok pikiran ke-4 Pembukaan UUD 1945 para founding fathers itu menitipkan pesan-pesan yang isinya antara lain agar para penyelenggara negara memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur. Menurut pandangan mereka, penyelenggara negara adalah pemimpin, pemuka, panutan dan pamong formal masyarakat (the ruling elite). Karena itu mereka wajib menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat dalam memelihara budi pekerti luhur. Mereka harus menjadi pemimpin yang senantiasa memberi teladan dalam segala hal, terutama sekali dalam memelihara budi pekerti luhur. Baik-buruknya budi pekerti masyarakat tergantung pada baik-buruknya budi pekerti para penyelenggara negara. Apabila para penyelenggara negara sebagai the ruling elite bersama seluruh warga masyarakat mampu memelihara budi pekerti luhur secara persisten, konsisten dan konsekuen, maka akan tercipta dan terpelihara suatu keadaan umum yang kondusif bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur (masyarakat tata-tentrem kerta-raharja) yang penuh pengampunan Tuhan (baldatun toyyibatun wa robun ghafur).
PENJELASAN KHUSUS
Di bawah ini disampaikan penjelasan mengenai masing-masing butir Prasetya Pesilat Indonesia, dengan maksud agar Pesilat Indonesia dapat menghayatinya dengan baik dan benar serta mempunyai motivasi yang mantap dalam mengamalkannya secara persiten, konsisten dan konsekuen.
Butir pertama
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber bagi terbentuknya dan adanya budi pekerti luhur pada diri manusia. Manusia tidak akan pernah memiliki budi pekerti luhur apabila tidak bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Budi pekerti luhur adalah manifestasi kejiwaan dari sikap bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Arti bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah beriman kepada-Nya serta mengamalkan semua ajaran-Nya secara persisten, konsisten dan konsekuen. Arti berbudi pekerti luhur adalah memiliki karsa, rasa, cipta dan akhlak yang mulia serta perwujudannya dalam bentuk sikap, perilaku dan perbuatan yang terkendali. Dengan perkataan lain, perwujudan budi pekerti luhur adalah kesanggupan untuk selalu mengendalikan diri dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Hal ini merupakan tolok ukur dari manusia yang bermartabat tinggi.
Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur merupakan satu kesatuan terpadu. Keduanya harus menjadi basis mental dan basis motivasi manusia Indonesia, termasuk Pesilat Indonesia. Dalam kaitan itu, Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi warganegara yang selalu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, dalam arti selalu beriman kepada-Nya serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya secara konsisten dan konsekuen serta senantiasa mengamalkan budi pekerti luhur dengan menampilkan sikap, perbuatan, tindakan dan perilaku serta ahlak yang terpuji dalam kehidupannya sehari-hari sebagai warga negara dan dalam interaksinya dengan warga negara yang lain.

Butir kedua
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat. UUD 1945 telah mengalami amandemen 4 kali, tetapi Pembukaannya tetap dipertahankan dalam keadaan utuh. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan penjabaran dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Di dalamnya tertera cita-cita nasional Rakyat Indonesia. Rumusan dari cita-cita nasional tersebut adalah :
1. Memiliki Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (alinea kedua).
2. Berkehidupan kebangsaan yang bebas (alinea ketiga).
3. Memiliki Pemerintah yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial (bagian pertama alinea keempat).
4. Memiliki susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia (bagian akhir alinea keempat).
Berdasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen, yang dimaksud dengan Negara Indonesia dan Negara Republik Indonesia dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdasarkan pokok-pokok pikiran yang melandasi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, NKRI adalah :
1. Negara Persatuan yang melindungi dan meliputi segenap Bangsa Indonesia seluruhnya.
2. Negara yang hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
3. Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan.
4. Negara yang berdasar atas Ketuhanan Yang maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai satu kesatuan merupakan Perjanjian Luhur Rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita nasionalnya.

Menurut Prof. Dr. Mr. Drs. Notonegoro dalam bukunya “Pancasila Secara Ilmiah Populer”, Sila-sila Pancasila tersusun secara hierarkhis dan satu sama lain mempunyai hubungan yang saling mengikat, sehingga Pancasila merupakan satu kesatuan keseluruhan yang bulat, dalam arti tiap-tiap Sila di dalamnya mengandung Sila-Sila lainnya dan dikualifikasi oleh Sila-Sila lainnya itu. Rumusan Sila-Sila Pancasila sebagai satu kesatuan keseluruhan dalam susunannya yang hierarkhis adalah sebagai berikut :
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa meliputi dan menjiwai Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, Sila Persatuan Indonesia, Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
2. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa serta meliputi dan menjiwai Sila Persatuan Indonesia, Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
3. Sila Persatuan Indonesia diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab serta meliputi dan menjiwai Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
4. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Sila Persatuan Indonesia serta meliputi dan menjiwai Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
5. Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, Sila Persatuan Indonesia dan Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Undang-Undang Dasar 1945 merupakan aturan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara Bangsa Indonesia di wilayah NKRI. Aturan dasar ini merupakan penjabaran dari Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Dasar 1945 dapat diamandemen tetapi setiap hasil mandemen harus sejiwa dengan pokok-pokok pikiran dan cita-cita nasional Rakyat Indonesia yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi warganegara yang sanggup membela dan mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini pada dasarnya berarti kesanggupan untuk membela keberadaan, kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI serta mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 maupun mengamalkan dan menegakkan nilai-nilainya secara persisten, konsisten dan konsekuen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Butir ketiga
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa Tanah Air (fatherland) Indonesia sangat luas wilayahnya. Ditinjau dari segi geografis, Indonesia terdiri dari 17.667 pulau besar dan kecil. Luas wilayah daratnya 735.000 mil2 dan terserak meliputi wilayah seluas 4.000.000 mil persegi. Untaian pulau-pulau ini membentang sepanjang 3.000 mil dan melebar sepanjang 1.000 mil. Dengan demikian, Indonesia merupakan negara yang wilayahnya paling terserak di dunia. Di wilayah Tanah Air Indonesia ini terdapat kekayaan alam yang berlimpah, baik di darat maupun di laut, serta keindahan alam yang mengagumkan.
Ditinjau dari segi etnis, agama, ras, bahasa, adat-istiadat, tradisi dan budaya, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan ini merupakan kenyataan sosiologis dan kultural yang telah berakar dalam sejarah masyarakat Indonesia. Di Indonesia terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang satu sama lain amat berbeda. Kemajemukan telah menjadi ciri Bangsa Indonesia yang paling khas. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling heterogen di dunia. Masing-masing kelompok etnis mewarisi peninggalan-peninggalan budaya yang penuh pesona dari leluhurnya.
Kekayaan alam yang berlimpah, keindahan alam yang mengagumkan dan peninggalan-peninggalan budaya yang mempesona, adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang wajib disyukuri. Rasa syukur itu harus diwujudkan dalam bentuk kecintaan setiap warga negara Indonesia kepada Bangsa dan Tanah Ainya.. Dalam kecintaan itu terkandung kemauan dan kemampuan untuk (1) selalu membina dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, (2) mempertahankan dan mengamankan Bangsa dan Tanah Air Indonesia dari berbagai ancaman apapun bentuknya dan dari manapun datangnya, dan (3) melestarikan kekayaan dan keindahan alam Indonesia maupun peninggalan-peninggalan budaya warisan leluhur bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang yang tangguh dalam memperjuangkan, membela, menegakkan dan mengisi kemerdekaannya. Walaupun sifatnya heterogen (beragam) dalam suku, budaya, adat, dan agama, Bangsa Indonesia selalu berada dalam persatuan dan kesatuan yang semakin kokoh, sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti walaupun beraneka ragam tetapi merupakan satu kesatuan.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi pejuang yang mencintai Bangsa dan Tanah Airnya. Hal ini berarti bahwa Pesilat Indonesia harus lebih menonjolkan dan mengutamakan dirinya sebagai warga Bangsa Indonesia daripada sebagai warga suku dan daerah asalnya. Suku dan daerah asal harus dipandang sebagai bagian integral dari Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Selain itu, Pesilat Indonesia juga berkewajiban untuk berpartisipasi aktif dalam upaya mempertahankan serta mengamankan Bangsa dan Tanah Airnya dari berbagai ancaman dari manapun datangnya dan apapun bentuknya maupun dalam upaya melestarikan kekayaan dan keindahan alamnya serta peninggalan-peninggalan budaya leluhurnya.
Butir keempat
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa kemajemukan bangsa Indonesia dapat merupakan kekayaan yang penuh manfaat konstruktif tetapi dapat juga menjadi sumber persoalan yang distruktif. Keterserakan wilayah Tanah Air Indonesia juga telah mempersulit kesatuan dan integrasi sosial maupun nasional. Kemajemukan bangsa dan keterserakan wilayah yang sedemikian itu menuntut adanya keinginan dari unsur-unsur bangsa Indonesia untuk selalu bersatu (Ernest Renant : le desire d’etre ensemble) disertai kemauan dan kemampuan untuk bertoleransi terhadap hak, kepentingan, pendapat dan keyakinan pihak lain. Kemajemukan memerlukan mekanisme sosial dan kultural untuk mengatur perbedaan-perbedaan serta perwujudan kepentingan dan hak setiap orang dan kelompok. Kemajemukan mensyaratkan ketertiban, disiplin dan kerukunan.
Dalam kaitan itu, membina dan melihara kesatuan dan keutuhan bangsa dan wilayah Tanah Air Indonesia merupakan hal yang sangat penting. Hal tersebut berarti bahwa kepentingan bangsa dan Tanah Air Indonesia lebih penting daripada kepentingan suku dan daerah. Segala macam bentuk etnosentrisme, daerahisme, promordialisme dan sektarianisme yang dapat melemahkan semangat persaudaraan dan persatuan Bangsa harus ditiadakan sampai ke akar-akarnya.
Berhasilnya perjuangan bangsa Indonesia di dalam usaha mencapai, membela, menegakkan dan mengisi kemerdekaannya adalah karena adanya persatuan yang dijiwai semangat persaudaraan di antara semua warga bangsa Indonesia. Persatuan merupakan hal yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia yang bersuku-suku dan menempati pulau-pulau yang tersebar luas.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi pejuang yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan Bangsa dengan mencegah atau mengatasi berbagai bentuk pemenuhan kepentingan pribadi, suku, daerah dan golongan yang dapat merusak persaudaraan dan persatuan bangsa.

Butir kelima
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas, melalui mana bangsa Indonesia dapat mengisi kemerdekaannya dengan pembangunan di segala bidang untuk mencapai kemajuan yang setara dengan kemajuan bangsa-bangsa lain di negara-negara maju. Segala hal yang menghambat, mengganggu dan mengancam upaya untuk mengejar kemajuan harus diatasi. Kemajuan yang harus dikejar dan dicapai adalah kemajuan yang memberikan kekondusifan bagi pengamalan nilai-nilai moral, sosial, kultural dan agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat maupun bagi terwujudnya kesejahteraan sosial yang adil dan merata kepada seluruh bangsa Indonesia.
Kemajuan itu harus tetap berakar pada kepribadian Indonesia, yang berarti tetap berjatidiri Indonesia. Kepribadian dan jatidiri Indonesia itu sendiri harus tetap berakar pada budaya, tradisi dan adat-istiadat serta nilai-nilai moral, sosial, kultural dan agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kemajuan dan kepribadian Indonesia merupakan satu kesatuan terpadu. Dalam kerangka kemajuan yang dapat dicapai, kepribadian Indonesia harus dipelihara, dipertahankan dan dilestarikan.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi pejuang yang terus-menerus mengejar kemajuan agar dengan itu ia dapat memberikan karya positif bagi kemajuan bangsa dan negaranya. Tetapi dalam upaya mengejar kemajuan itu, ia harus tetap mempertahankan dan melestarikan kepribadian Indonesia. Dengan perkataan lain, kemajuan-kemajuan yang dicapai harus tetap berakar pada kepribadian Indonesia, sehingga kemajuan-kemajuan itu akan tetap berjatidiri Indonesia.
Butir keenam
Pesilat Insonesia harus menyadari bahwa kebenaran, kejujuran dan keadilan merupakan kondisi dasar yang memungkinkan terlaksananya berbagai upaya kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan dengan baik. Dalam kaitan itu, untuk mewujudkan tercapainya tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, setiap unsur bangsa harus menegakkan atau membudayakan kebenaran, kejujuran dan keadilan pada dirinya sendiri dan setelah itu dilanjutkan dengan memasyarakatkan dan membudayakannya seluas-luasnya dan merata ke semua unsur bangsa di seluruh wilayah negara. Seiring dengan itu, segala bentuk upaya yang menyangkut masyarakat, bangsa dan negara harus dilakukan dengan benar, jujur dan adil. Hasil-hasil yang dicapai dengan upaya itu pun juga harus didistribusikan dengan benar, jujur dan adil. Apabila tidak demikian, akan terjadi keresahan, kegelisahan, kecemburuan dan kecurigaan sosial, yang pada gilirannya akan menimbulkan gejolak sosial, konflik sosial, keributan sosial, kekerasan sosial dan lain-lain sejenisnya yang mengganggu stabilitas nasional dan melemahkan Ketahanan Nasional.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi kesatria yang senantiasa dan terus berusaha menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Menegakkan berarti mewujudkan menjadi kenyataan. Hal ini tidak mudah. Karena itu, penegakan kebenaran, kejujuran dan keadilan harus dimulai dari diri sendiri, yang berarti setiap kata yang dikeluarkan dan perbuatan yang dilakukan harus benar, jujur dan adil, bukan bagi dirinya sendiri saja tetapi juga bagi orang lain.
Butir ketujuh
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa cobaan dan godaan yang bermacam-macam bentuknya merupakan kendala utama yang dapat menggagalkan keberhasilan manusia dalam upaya untuk mencapai tujuan atau cita-citanya, serta dapat meniadakan kemauan dan kemampuan. Cobaan dan godaan yang tidak teratasi akan melemahkan bahkan meniadakan daya pengendalian diri dan pada gilirannya dapat menjatuhkan atau menurunkan martabat diri.
Karena itu, setiap unsur bangsa harus senantiasa tahan-uji dalam menghadapi cobaan dan godaan. Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berdisiplin, mengendalikan diri serta menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan, dapat menguatkan ketahanujian manusia dalam menghadapi setiap cobaan dan godaan. Ketahanujian semua unsur bangsa yang kuat akan memberikan kekondusifan bagi suksesnya upaya untuk mewujudkan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi kesatria yang selalu tahan uji, yakni tanggap (cepat mengetahui), tangguh (ulet dan berkemampuan) sera tanggon (tegar tak tergoyahkan) dalam menghadapi setiap cobaan dan godaan, apapun bentuknya dan dari manapun datangnya. Hal itu akan dapat terwujud apabila Pesilat Indonesia selalu meneguhkan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meluhurkan budi pekertinya serta memperkuat disiplin dan daya pengendalian dirinya.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari keseluruhan penjelasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. “Prasetya Pesilat Indonesia” adalah pernyataan janji Pesilat Indonesia kepada dirinya sendiri untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI. Pernyataan janji tersebut adalah dalam kedudukannya sebagai warga negara, sebagai pejuang dan sebagai kesatria. Sebagai warga negara ia wajib memenuhi kewajiban-kewajiban kebangsaan dan kenegaraannya. Sebagai pejuang ia wajib meneruskan perjuangan generasi pendahulunya dalam rangka menegakkan dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebagai kesatria ia wajib berdisiplin serta bertindak konsisten, konsekuen dan penuh rasa tanggungjawab dalam memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan nasionalnya maupun dalam meneruskan perjuangan generasi pendahulunya
2. Substansi “Prasetya Pesilat Indonesia” yang dihayati dengan baik dan benar dapat membentuk semangat kebangsaan dan ahlak yang berguna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Pengamalan “Prasetya Pesilat Indonesia” yang persisten, konsisten dan konsekuen akan memperkuat jiwa korsa dan semangat persatuan Pesilat Indonesia serta membuat Pesilat Indonesia dan korsanya mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya-upaya untuk mewujudkan tercapainya tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demikian penjelasan singkat mengenai “Prasetya Pesilat Indonesia”. Semoga penjelasan ini dapat membuat Pesilat Indonesia semakin menghayati keseluruhan substansi yang terkandung dalam “Prasetya Pesilat Indonesia” serta semakin mampu untuk mengamalkannya secara persisten, konsisten dan konsekuen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 


sumber : http://www.persilat.org
READMORE
 

Makna Lambang IPSI


Warna Kuning : berarti bahwa IPSI mengutamakan budi pekerti dan kesejahteraan lahir dan batin dalam menuju kejayaan nusa dan bangsa Bentuk Perisai Segi Lima : berarti bahwa IPSI berasaskan landasan idiil Pancasila, serta bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati.

Sayap Garuda berwarna Kuning berototkan merah : berarti kekuatan bangsa Indonesia yang bersendikan kemurnian, keluruhan dan dinamika, Sayap 18 lembar, bulu 5 lembar + 4 lembar + 8 lembar berarti tanggal berdirinya IPSI adalah 18 Mei 1948. Sayap 18 lembar, terdiri dari 17+1 berarti IPSI dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan bersatu membangun negara.

Untaian lima lingkaran : melambangkan bahwa IPSI melalui olahraga merupakan ikatan peri kemanusiaan antara pelbagai aliran dengan memegang teguh asas kekeluargaan, persaudaraan dan kegotong royongan.


Ikatan pita berwarna merah Putih : bahwa IPSI merupakan suatu ikatan pemersatu dari pelbagai aliran Pencak Silat, yang menjadi hasil budaya yang kokoh karena dilandasi oleh rasa berbangsa, berbahasa dan bertanah air Indonesia.

Gambar tangan putih di dalam Dasar hijau : menggambarkan bahwa IPSI membantu negara dalam bidang  ketahanan nasional melalui pembinaan mental/fisik agar kader-kader IPSI berkepribadian nasional serta  berbadan sehat, kuat dan tegap.

www.silatindonesia.com
READMORE
 

Sejarah Pencak Silat di Jawa Barat

Berdasarkan alirannya, beladiri Pencak Silat yang ada di Jawa Barat dibagi berdasarkan beberapa aliran. Diantaranya Cimande, Cikalong, Syahbandar dan beberapa aliran lainnya lagi.
Pencak Silat Cimande untuk pertamakalinya disebarkan oleh Sakir penduduk Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Sakir adalah salah seorang tokoh Pencak Silat, serta ilmu kebatinan Sakir dikenal "luhung elmu"nya. Karenanya, Sakir sangat disegani masyarakat. Penduduk setempat menganggap Sakir sebagai orang tua mereka sendiri.
Banyak pula muridnya yang sengaja belajar Pencak Silat. Pada saat itu yang memerintah Kabupaten Cianjur ialah Bupati R. Aria Wiratanudatar II sebagai Bupati yang ke V dari keturunannya. R. Aria Wiratanudatar II juga dikenal dengan sebutan Dalem Enoh, memerintah Kabupaten Cianjur antara tahun 1776-1813. Setelah diketahui Dalem, diangkatlah Sakir menjadi guru Pencak Silat dan keamanan di Kabupaten. Diantara muridnya yang termashur ialah putra dalem Enoh yang bernama R. Wiranaga yang mendapat julukan Aria Cikalong.
Menurut para ahli sejarah di Kabupaten Cianjur, selain R. Wiranagara terdapat pula R. Obing Ibrahim dan R. Haji Ipung Prawirasudibja. Merekalah yang menerangkan, bahwa pada tahun 1780 Sakir pernah dicoba kemahirannya dalam Pencak Silat dengan orang Cina dari Macao bertempat dialun-alun Cianjur dan pada kesempatan itu Sakir yang menang.
Pada tanggal 2 April 1812 R. Aria Wiratanudatar II atau lebih dikenal dengan nama R. Enoh meninggal dunia. Beliau meninggalkan 3 orang putra yakni : Aria Wiranagara yang lebih dikenal dengan nama Aria Cikalong, R. Natanagara yang setelah menunaikan Ibadah Haji lebih dikenal dengan nama R. Haji Muhamad Tobri dan Aom Abas yang kemudian menjadi Bupati Limbangan.
Untuk selanjutnya, Sakir dibawa pindah oleh R. Aria Natanagara ke Bogor. Oleh Bupati Bogor Sakir diangkat menjadi pengawal Bupati. Selama Sakir mengabdi pada Bupati Bogor, beliau bertempat tinggal di Cimande (Kabupaten Cianjur). Karena itulah Pencak Silat yang diajarkan dan disebarkan oleh Sakir disebut Pencak Cimande.
Menurut cacatat yang diperoleh, tersebarnya Pencak Cimande di Cianjur hanya sampai tahun 1813. Namun kemudian pada tahun 1819, pencak Cimande ini tersebar di Cianjur sebelah Selatan. Penyebaran Pencak Cimande ini dilakukan oleh putra-putra dan murid-muridnya Sakir. Mereka menyebar ke daerah Cianjur sebelah Selatan dan Garut Selatan khususnya di daerah-daerah perkebunan sebagai sasaran operasionalnya. Hal ini berlangsung sampai tahun 1930. Setelah penyebaran Pencak Cimande, disusul pula dengan Pencak Cikalong dan Syahbandar yang disebarkan oleh para putra dan murid R. Haji Ibrahim dari Cikalong.
Adapun yang menciptakan serta mengkreasikan Pencak Cikalong adalah . R. Haji Ibrahim turunan ke 9 dari Dalem Cikundul, Majalaya Kecamatan Cikalong Kulon. Ayahnya adalah R. Rajadireja, yang lebih dikenal sebagai Aom Raja, dan kakeknya adalah R. Wiranagara yang lazim disebut Aria Cikalong.
R. Haji Ibrahim dilahirkan pada tahun 1816. Keahlian dalam Pencak Silat diperolehnya pula dari leluhur kakeknya yang merupakan murid terpandai dari Sakir.
R. Haji Ibrahim mulai belajar Pencak dari R. Ateng Alimudin seorang putra Tubagus Kosim, yang merupakan keturunan ke 13 dari Sultan Hasanudin (Banten). R. Alimudin menikah dengan R. Siti Hadijah, ipar dari R. Haji Ibrahim. Sebenarnya R. Haji Ibrahim bukan hanya berguru kepada R. Ateng Alimudin saja, tetapi dalam melengkapi pengetahuannya tentang Pencak, R. Haji Ibrahim berguru pula pada Abang Ma’rup, Abang Madi, Abang Kari dan beberapa pendekar Pencak Silat lainnya.
Menurut catatan R. Haji Ibrahim meninggal dunia pada tahun 1906 dalam usia 90 tahun.
Menurut R. Obing Ibrahim salah seorang murid R. Haji Ibrahim, yang seolah olah bersembunyi agar tidak diketahui umum. Ada keistimewaan lainnya yang dimiliki oleh R. Haji Ibrahim yakni beliau tidak mau dibayar hasil jerih payahnya mengajar. Namun ajaran Pencak Cikalong hanya diberikan kepada orang-orang terbatas yang benar-benar melaksanakan persyaratannya, yakni taat dan taqwa kepada guru, taat dan taqwa kepad ratu, dalam hal ini pemerintah, taat dan taqwa kepada ayah dan ibu, taat dan taqwa kepada agama.
Disamping sebagai syarat mutlak bagi para murid Pencak Cikalong, diusahakan agar para muridnya tidak hidup sendiri-sendiri, tidak ditunggangi rasa kontradiksi dan merasa lebih tinggi daripadaa golongan lainnya. Syarat lainnya, ialah bahwa setiap muridnya harus menginsafinya, bahwa Pencak Silat yang lahir dan berkembang di Jawa Barat, masih merupakan satu sumber dan satu saluran dari yang pertama.
sumber : www.tadjimalela.netfirms.com || http://silatindonesia.com/2009/08/sejarah-pencak-silat-di-jawa-barat/
 
Penjelasan Singkat

Sejarah Silat Cimande
Semua komunitas Maenpo Cimande sepakat tentang siapa penemu Maenpo Cimande, semua mengarah kepada Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer dsb. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang, atau dalam bahasa Inggris Great Grandfather). Tetapi yang sering diperdebatkan adalah dari mana Abah Khaer itu berasal dan darimana dia belajar Maenpo. Ada 3 versi utama yang sering diperdebatkan, yaitu:
1. Versi Pertama
Ini adalah versi yang berkembang di daerah Priangan Timur (terutama meliputi daerah Garut dan Tasikmalaya) dan juga Cianjur selatan. Berdasarkan versi yang ini, Abah Khaer belajar Silat dari istrinya. Abah Khaer diceritakan sebagai seorang pedagang (dari Bogor sekitar abad 17-abad 18) yang sering melakukan perjalanan antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dsb. Dan dalam perjalanan tersebut beliau sering dirampok, itu terjadi sampai istrinya menemukan sesuatu yang berharga.
Suatu waktu, ketika Abah Khaer pulang dari berdagang, beliau tidak menemukan istrinya ada di rumah… padahal saat itu sudah menjelang sore hari, dan ini bukan kebiasaan istrinya meninggalkan rumah sampai sore. Beliau menunggu dan menunggu… sampai merasa jengkel dan khawatir… jengkel karena perut lapar belum diisi dan khawatir karena sampai menjelang tengah malam istrinya belum datang juga.
Akhirnya tak lama kemudian istrinya datang juga, hilang rasa khawatir… yang ada tinggal jengkel dan marah. Abah Khaer bertanya kepada istrinya… “ti mana maneh?” (Dari mana kamu?) tetapi tidak menunggu istrinya menjawab, melainkan langsung mau menempeleng istrinya. Tetapi istrinya malah bisa menghindar dengan indahnya, dan membuat Abah Khaer kehilangan keseimbangan. Ini membuat Abah Khaer semakin marah dan mencoba terus memukul… tetapi semakin mencoba memukul dengan amarah, semakin mudah juga istrinya menghindar. Ini terjadi terus sampai Abah Khaer jatuh kecapean dan menyadari kekhilafannya… dan bertanya kembali ke istrinya dengan halus “ti mana anjeun teh Nyi? Tuluy ti iraha anjeun bisa Ulin?” (Dari mana kamu? Lalu dari mana kamu bisa “Main”?).
Akhirnya istrinya menjelaskan bahwa ketika tadi pagi ia pergi ke sungai untuk mencuci dan mengambil air, ia melihat Harimau berkelahi dengan 2 ekor monyet. (Salah satu monyet memegang ranting pohon.) Saking indahnya perkelahian itu sampai-sampai ia terkesima, dan memutuskan akan menonton sampai beres. Ia mencoba mengingat semua gerakan baik itu dari Harimau maupun dari Monyet, untungnya baik Harimau maupun Monyet banyak mengulang-ngulang gerakan yang sama, dan itu mempermudah ia mengingat semua gerakan. Pertarungan antara Harimau dan Monyet sendiri baru berakhir menjelang malam.
Setelah pertarungan itu selesai, ia masih terkesima dan dibuat takjub oleh apa yang ditunjukan Harimau dan Monyet tersebut. Akhirnya ia pun berlatih sendirian di pinggir sungai sampai betul-betul menguasai semuanya (Hapal), dan itu menjelang tengah malam.
Apa yang ia pakai ketika menghindar dari serangan Abah Khaer, adalah apa yang ia dapat dari melihat pertarungan antara Harimau dan Monyet itu. Saat itu juga, Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan beliau. Ia berpikir, 2 kepala yang mengingat lebih baik daripada satu kepala. Ia takut apa yang istrinya ingat akan lupa. Beliau berhenti berdagang dalam suatu waktu, untuk melatih semua gerakan itu, dan baru berdagang kembali setelah merasa mahir. Diceritakan bahwa beliau bisa mengalahkan semua perampok yang mencegatnya, dan mulailah beliau membangun reputasinya di dunia persilatan.
Jurus yang dilatih:
1. Jurus Harimau/Pamacan (Pamacan, tetapi mohon dibedakan pamacan yang “black magic” dengan jurus pamacan. Pamacan black magic biasanya kuku menjadi panjang, mengeluarkan suara-suara aneh, mata merah dll. Silakan guyur aja dengan air kalau ketemu yang kaya gini. ).
2. Jurus Monyet/Pamonyet (Sekarang sudah sangat jarang sekali yang mengajarkan jurus ini, dianggap punah. Saya sendiri sempat melihatnya di Tasikmalaya, semoga beliau diberi umur panjang, kesehatan dan murid yang berbakti sehingga jurus ini tidak benar-benar punah).
3. Jurus Pepedangan (ini diambil dari monyet satunya lagi yang memegang ranting).
Cerita di atas sebenarnya lebih cenderung mitos, tidak bisa dibuktikan kebenarannya, walaupun jurus-jurusnya ada. Maenpo Cimande sendiri dibawa ke daerah Priangan Timur dan Cianjur Selatan oleh pekerja-pekerja perkebunan teh. Hal yang menarik adalah beberapa perguruan tua di daerah itu kalau ditanya darimana belajar Maenpo Cimande selalu menjawab “ti indung” (dari ibu), karena memang mitos itu mempengaruhi budaya setempat, jadi jangan heran kalau di daerah itu perempuan pun betul-betul mempelajari Maenpo Cimande dan mengajarkannya kepada anak-anak atau cucu-cucunya, seperti halnya istrinya Abah Khaer mengajarkan kepada Abah Khaer.
Perkembangannya Maenpo Cimande sendiri sekarang di daerah tersebut sudah diajarkan bersama dengan aliran lain (Cikalong, Madi, Kari, Sahbandar, dll). Beberapa tokoh yang sangat disegani adalah K.H. Yusuf Todziri (sekitar akhir 1800 – awal 1900), Kiai Papak (perang kemerdekaan, komandannya Mamih Enny), Kiai Aji (pendiri Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, perang kemerdekaan), Kiai Marzuk (Maenpo H. Marzuk, jaman penjajahan Belanda), dll.
2. Versi Kedua Menurut versi kedua, Abah Khaer adalah seorang ahli maenpo dari Kampung Badui. Beliau dipercayai sebagai keturunan Abah Bugis (Bugis di sini tidak merujuk kepada nama suku atau daerah di Indonesia Tengah). Abah Bugis sendiri adalah salah seorang Guru ilmu perang khusus dan kanuragaan untuk prajurit pilihan di Kerajaan Padjadjaran dahulu kala. Kembali ke Badui, keberadaan Abah Khaer di Kampung Badui mengkhawatirkan sesepuh-sesepuh Kampung Badui, karena saat itu banyak sekali pendekar-pendekar dari daerah lain yang datang dan hendak mengadu jurus dengan Abah Khaer, dan semuanya berakhir dengan kematian.
Kematian karena pertarungan di tanah Badui adalah merupakan “pengotoran” akan kesucian tanah Badui. Karena itu, pimpinan Badui (biasa dipanggil Pu’un) meminta Abah Khaer untuk meninggalkan Kampung Badui, dengan berat hati… Abah Khaer pun pergi meninggalkan Kampung Badui dan bermukim di desa Cimande-Bogor. Tetapi, untuk menjaga rahasia-rahasia Kampung Badui (terutama Badui dalam), Abah Khaer diminta untuk membantah kalau dikatakan dia berasal dari Badui, dan orang Badui (Badui dalam) pun semenjak itu diharamkan melatih Maenpo mereka ke orang luar, jangankan melatih… menunjukan pun tidak boleh. Satu hal lagi, Abah Khaer pun berjanji untuk “menghaluskan” Maenpo nya, sehingga tidak ada lagi yang terbunuh dalam pertarungan, dan juga beliau berjanji hanya akan memakai dan memanfaatkannya untuk kemanusiaan.
Oleh karena itu, dahulu beberapa Guru-guru Cimande tua tidak akan menerima bayaran dari muridnya yang berupa uang, lain halnya kalau mereka memberi barang… misal beras, ayam, gula merah atau tembakau sebagai wujud bakti murid terhadap Guru. Barang-barang itupun, oleh Guru tidak boleh dijual kembali untuk diuangkan.
Versi kedua ini banyak diadopsi oleh komunitas Maenpo dari daerah Jawa Barat bagian barat (Banten, Serang, Sukabumi, Tangerang, dsb). Mereka juga mempercayai beberapa aliran tua di sana awalnya dari Abah Khaer, misalnya Sera. Penca Sera berasal dari Uwak Sera yang dikatakan sebagai salah seorang murid Abah Khaer (ada yang mengatakan anak, tetapi paham ini bertentangan dengan paham lain yang lebih tertulis). Penca Sera sendiri sayangnya sekarang diakui dan dipatenkan di US oleh orang Indo-Belanda sebagai beladiri keluarga mereka.
3. Versi Ketiga
Versi ketiga inilah yang “sedikit” ada bukti-bukti tertulis dan tempat yang lebih jelas. Versi ini pulalah yang dipakai oleh keturunan beliau di Kampung Tarik Kolot – Cimande (Bogor). Meskipun begitu, versi ini tidak menjawab tuntas beberapa pertanyaan, misal: Siapa genius yang menciptakan aliran Maenpo ini yang kelak disebut Maenpo Cimande.
Abah Khaer diceritakan sebagai murid dari Abah Buyut, masalahnya dalam budaya Sunda istilah Buyut dipakai sebagaimana “leluhur” dalam bahasa Indonesia. Jadi Abah Buyut sendiri merupakan sebuah misteri terpisah, darimana beliau belajar Maenpo ini… apakah hasil perenungan sendiri atau ada yang mengajari? Yang pasti, di desa tersebut… tepatnya di Tanah Sareal terletak makam leluhur Maenpo Cimande ini… Abah Buyut, Abah Rangga, Abah Khaer, dll.
Abah Khaer awalnya berprofesi sebagai pedagang (kuda dan lainnya), sehingga sering bepergian ke beberapa daerah, terutama Batavia. Saat itu perjalanan Bogor-Batavia tidak semudah sekarang, bukan hanya perampok… tetapi juga Harimau, Macan Tutul dan Macan Kumbang. Tantangan alam seperti itulah yang turut membentuk beladiri yang dikuasai Abah Khaer ini. Disamping itu, di Batavia Abah Khaer berkawan dan saling bertukar jurus dengan beberapa pendekar dari China dan juga dari Sumatra. Dengan kualitas basic beladirinya yang matang dari Guru yang benar (Abah Buyut), juga tempaan dari tantangan alam dan keterbukaan menerima kelebihan dan masukan orang lain, secara tidak sadar Abah Khaer sudah membentuk sebuah aliran yang dasyat dan juga mengangkat namanya.
Saat itu (sekitar 1700-1800) di Cianjur berkuasa Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI (1776-1813, dikenal juga dengan nama Dalem Enoh). Sang Bupati mendengar kehebatan Abah Khaer, dan memintanya untuk tinggal di Cianjur dan bekerja sebagai “pamuk” (pamuk=guru beladiri) di lingkungan Kabupatian dan keluarga bupati. Bupati Aria Wiratanudatar VI memiliki 3 orang anak, yaitu: Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong), Rd. Aria Natanagara (Rd.Haji Muhammad Tobri) dan Aom Abas (ketika dewasa menjadi Bupati di Limbangan-Garut). Satu nama yang patut dicatat di sini adalah Aria Wiranagara (Aria Cikalong), karena beliaulah yang merupakan salah satu murid terbaik Abah Khaer dan nantinya memiliki cucu yang “menciptakan” aliran baru yang tak kalah dasyat.
Sepeninggal Bupati Aria Wiratanudatar VI (tahun 1813), Abah Khaer pergi dari Cianjur mengikuti Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor. Mulai saat itulah beliau tinggal di Kampung Tarik Kolot – Cimande sampai wafat (Tahun 1825, usia tidak tercatat). Abah Khaer sendiri memiliki 5 orang anak, seperti yang dapat dilihat di bawah ini. Mereka inilah dan murid-muridnya sewaktu beliau bekerja di kabupaten yang menyebarkan Maenpo Cimande ke seluruh Jawa Barat.
http://www.kupload.com/out.php/i5010_AbahKhaer.JPG. Dan ini adalah gambaran dari salah seorang anak Rd. Aria Wiratanudatar VI, yaitu Aom Abas, yang setelah menjadi Bupati di Limbangan Garut juga bergelar Rd. Aria Wiratanudatar.
Sayangnya image tentang Abah Khaer sendiri tidak ada, cuma digambarkan bahwa beliau: “selalu berpakain kampret dan celana pangsi warna hitam. Dan juga beliau selalu memakai ikat kepala warna merah, digambarkan bahwa ketika beliau “ibing” di atas panggung penampilannya sangat expressif, dengan badan yang tidak besar tetapi otot-otot yang berisi dan terlatih baik, ketika “ibing” (menari) seperti tidak mengenal lelah. Terlihat bahwa dia sangat menikmati tariannya tetapi tidak kehilangan kewaspadaannya, langkahnya ringan bagaikan tidak menapak panggung, gerakannya selaras dengan kendang (“Nincak kana kendang” – istilah sunda). Penampilannya betul-betul tidak bisa dilupakan dan terus diperbincangkan.” (dari cerita/buku Pangeran Kornel, legenda dari Sumedang, dalam salah satu bagian yang menceritakan kedatangan Abah Khaer ke Sumedang, aslinya dalam bahasa Sunda, pengarang Rd Memed Sastradiprawira).
Cat: lain kali saya posting soal apa itu pangsi dan kampret seperti yang dipakai Abah Khaer yang diduga mempengaruhi cara berpakain pesilat-pesilat sekarang terutama dari Sunda.
jurus-jurus silat cimande
1. Jurus Kelid Cimande.
1.tonjok bareng,
2.tonjok saubelah,
3.kelid selup,
4.timpah seubelah,
5.timpah serong ,
6.timpah duakali,
7.batekan,
8.teke tampa,
9.teke purilit
10.tewekan,
11.kedutan,
12.guaran,
13.kedut guar
14.kelid dibeulah
15.selup dibeulah,
16,kelid tonjok
17.selop tonjok
18.kelid tilu,
19.selup tilu
20.kelid lima
21.selup lima
22 peuncitan,
23.timpah bohong
24.serong panggul,
25.serong guwil,
26.serong guar,
27.singgul serong,
28.singgul sebelah,
29.sabet pedang,
30.beulit kacang,
31.beulit jalak pengkor
32.pakala alit
33.pakala gede
2. Jurus Pepedangan Cimande.
- elakan sebeulah
- selup kuriling
- jagangan
- tagongan
- piceunan
- balungbang
- balumbang
- sabeulah
- opat likur
- buang dua kali
- selup kuriling langsung
- selop bohong.
3. Jurus Telapak Selancar.
Leluhur cimande
Yang sudah meninggal dan terletak di Kabupaten Bogor :
.
1. Embah Haji Abdullah Somad (Ayah Otjod)
2. Embah Atje (Ayah Atje)
3. Embah Rangga (Eyang Rangga)
4. Embah Ursi (Ayah Ursi)
5. Embah Karta Singa
.
Yang sudah meninggal dan terletak di Kota Madya Bogor :
1. Embah Khoer (Embah Khair) – Tanah Sareal Bogor (Kebun Raya)
2. Embah Dato – Bantar Jati Kaum
3. Embah Djapra – Kebun Raya Bogor
4. Embah Dalem – Batu tulis Bogor
5. Embah Jair – Bantar jati timur – Bogor
.
Di Kecamatan Semplak :
.
1. Embah Raden Harun Semplak Kaum
.
Di Kaum Pandak :
.
1. Embah Raden
.
Di Pelabuhan Ratu :
.
1. Embah H. Wali Sakti Kodratullah (leluhur Sukawayana)
2. Embah Genter Bumi
3. Embah Sukmawijaya
4. Embah Angka Jaya Sakti
5. Embah Rembang Karang Hawu
6. Embah Angguh
7. Eyang Sungsang Layang Laut Kidul
.
Di Kab. Cianjur :
.
1. Embah Dalam Cikundul Wiratanudatar
2. Aom Djamhur
3. Abah Sera
4. Abah Madi
5. Abah Kardi
6. Abah Kalong
7. Abah Kando
.
Di Kab. Sumedang :
.
1. Embah Djaka Raksa
2. Embah Djoko Perkasa
.
Di Kab. Garut :
.
1. Sunan Rahmat Leuweung Sancang Gadog Suci (Prabu Kean Santang)
2. Abah Madi
3. Abah Kari
4. Syah Abdul Muhyi – Pamijahan Tasikmalaya – Garut – Gosong Suci – syeh Djafar Sidik
.
Di Kab. Cirebon :
.
1. Susuhunan Kasepuhan
2. Susuhunan Kenoman
3. Susuhunan Cirebonan (Sunan Kecirebonan)
4. Syeh Syarief Hidayatullah (Syeh Mudaim)
5. Syeh Saikodirjaelani
6. Nyi MAs Panatagama
.
Di Seda Palembang :
1. Pangeran Maulana Muhammad
2. Pangeran Basisir
.
Di Banten :
.
1. Maulana Hasanudin – Mesjid Agung
2. Maulana Yusuf – Kasuniatan
3. Maulana Mansyur – Cikaduan
4. Syeh Asnawi – Caringin Labuhan Banten
.
Di Madura :
.
1. Maulana Malik Ibrahim – Bangkalan (Madura)
2. Maulana Magribi – Pemakasan
.
Guru – Guru Cimande
.
1. Abah Haji Gaos (Abah Encun) – Tari Kolot Cimande Girang
2. Abah Haji Miftah – Tari Kolot Cimande Girang
3. Abah Haji Karim – Tari Kolot Cimande Girang
4. Abah Haji Komar – Tari Kolot Cimande Girang
5. Abah Holili -Tari Kolot Cimande Girang
6. Abah Haji Lukman (Abah Enang) – Pasir Muncang
7. Abah Boim ( Cisempur)
8. Mang Sobari – Cisalada
9. Abah Hasbuna – Ciangsana
10. Abah Syafei – Kebon Pedes
11. Bapak Kyai Djasmani – Pandeglang
12. Bapak Kyai Moch, Yusuf – Batu Bandar Banten
13. Abah Sidik Bin enos – Tari Kolot Cimande
14. Abah Ayub Bin H. Abdul Rosyid – Cisaladana
15. Abah Haji Acih Jarkasih – Tari Kolot Cimande
16. Abah Open – Kebun Pedes
17. Abah Husin – Bojong Menteng
.
Catatan : Tentang leluhur Cimande ini dikutip dari buku catatan tahun 1961 dan disusun oleh Guru Besar Padjadjaran Cimande, Bapak H. Tb. Djamhari pada tanggal 14 September 1971.
sumber : http://padjadjarancimandepusat.blogspot.com

Silat Syahbandar
Silat Syahbandar di Indonesia banyak di kenal dengan banyak sebutan, diantaranya banyak yang menyebutnya Gerak Sabandar, Gerak Panca Tunggak, Jurus Lima. Dan Silat Syahbandar saat ini menjadi dasar / aliran dari berbagai Perguruan Pencak Silat di Indonesia.
Asal muasal dari Silat Syahbandar ini berawal dari seorang Pendekar Silat dari Pagaruyung, yaitu Moh. Kosim Ama Sabandar yang di lahirkan pada tahun 1766 di pagaruyung (Minangkabau Timur) dan meninggal pada tahun 1880 dan dimakamkan di wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Bahwasanya dalam aliran2 silat Minang terdapat aliran silat tenaga dalam, beliau menyebutnya lebih tepat dengan istilah tenaga batin. Di Minang metode tersebut dikenal dengan nama Ilmu Gayung. Ilmu Gayung ada dua jenis yaitu Gayung Lahir dan Gayung Batin (gayung bersambut dan gayung tak bersambut ). Silat Minang itu dirangkum dari  4 aliran  : – Silat Harimau Campo, yg berasal dari Champa – Silat Kucieng Siam, yg berasal dari Siam – Silat Kambieng Utan, yg berasal dari Bhutan – Silat Anjueng Mualiem , yg berasal dari Persia. Yang kemudian oleh Nini Datuk Suri Dirajo dipoles dan disempurnakan menjadi Silek Tuo pada sekitar tahun 1190 M. … Next …
SEJARAH PERSILATAN JURUS LIMA
Persilatan Jurus Lima atau yg biasa dikenal dengan Jurus Syahbandar dikenal dengan beberapa nama antara lain; Langkah Empat(langkah ampek), Jalan lima, Gerak Anu Opat Kalima Pancer, Gerak Sabandar, Gerak Asror, Gerak Panca Tunggal,dll.
Dahulu dikenal sebagai kepandaian atau kelihaian dari Moh. Kosim Ama Sabandar , berasal dari Pagaruyung Sumatra Barat.
Sementara itu menurut penyelidikanku secara langsung ke Bukit Tinggi-Padangpanjang-Batusangkar, yg mana dalam hal ini aku sangat dibantu sekali oleh Bpk.Drs.Mid Djamal
(Dosen ASKI Padangpanjang) . Aku mendapatkan banyak keterangan yang menarik tentang aliran2 silat/pentjak Minangkabau. Berhubung Beliau adalah jg penulis dari sebuah buku yang berjudul “Aliran2 Silat Minangkabau”.
Bahwasanya dalam aliran2 silat Minang terdapat aliran silat tenaga dalam, beliau menyebutnya lebih tepat dengan istilah tenaga batin. Di Minang metode tersebut dikenal dengan nama Ilmu Gayung. Ilmu Gayung ada dua jenis yaitu Gayung Lahir dan Gayung Batin (gayung bersambut dan gayung tak bersambut ).
Silat Minang itu dirangkum dari “4 aliran” :
- Silat Harimau Campo, yg berasal dari Champa
- Silat Kucieng Siam, yg berasal dari Siam
- Silat Kambieng Utan, yg berasal dari Bhutan
- Silat Anjueng Mualiem , yg berasal dari Persia.
Yang kemudian oleh Nini Datuk Suri Dirajo dipoles dan disempurnakan menjadi Silek Tuo pada sekitar tahun 1190 M.
RIWAYAT HIDUP MOH.KOSIM AMA SABANDAR
Dilahirkan pada tahun 1766 di Pagaruyung (Minangkabau Timur), meninggal pada tahun 1880 dimakamkan di Wanayasa, Purwakarta, Jawa-Barat. Berarti umurnya mencapai 114 thn.
Menurut keterangan dari Bpk.Letkol Ckh. Abdur Rauf,SH ( Sesepuh Pusaka Paguron Cikalong / PPC / Cianjur) Beliau pernah mendengar keterangan dari para Sesepuh Cikalong terdahulu bahwasanya Moh Kosim itu diusir dari Pagaruyung karena mengajarkan Silat Pusako kepada orang kebanyakan / masyarakat awam yg bukan Bangsawan atau keluarga kerajaan.
Diceritakan pula pada masa itu, beliau Moh Kosim adalah seorang pemuda bangsawan
Yang punya kegemaran berlomba perahu dengan orang kebanyakan, pergaulannya sehari-hari sangat dekat dengan masyarakat bawah.
Apalgi masa itu banyak terjadi ketidak adilan dan kesemena-menaan yg dilakukan oknum2 penguasa kerajaan terhadap rakyatnya.
Sehingga atas dasar itulah mengapa seorang pemuda bangsawan kerajaan, menjadi terketuk hatinya untuk mengajarkan pusako pentjak, yang menjadi symbol kebanggaan yg sangat diimpi2kan setiap pemuda minang. Sehingga semakin ramailah para pemuda minang yang belajar pentjak, dan hal ini kemudian menjadi santer terdengar pihak oknum2 kerajaan yg menjadi terganggu dan merasa khawatir terancam secara tak langsung, karena mulai menyebabkan perlawanan secara tak langsung dari masyarakat.
Kemudian akhirnya terjadi perselisihan paham antara Moh Kosim dengan keluarganya yaitu mengenai masalah “peraturan pentjak”. Moh Kosim dianggap keluarganya telah menyalahi peraturan, karena tak boleh mengajarkan pusako kepada orang kebanyakan.
Dan karenanya ( juga akibat fitnah dan gosokan dari oknum penguasa ) diambillah keputusan hukuman baginya, diusir dari Pagaruyung.
Sehingga pelajaran pentjak kepada orang kebanyakan menjadi tak selesai dan tak sempurna, sehingga bukan merupakan ancaman lagi bagi oknum penguasa untuk melanjutkan penindasanya kepada kaum lemah.
Dalam kepiluan hatinya terusir dan pergi meninggalkan kampung halamannya, Moh Kosim naik kapal kompeni, menuju ke Batavia.
Di kapal terjadilah suatu kejadian yang tidak diduga, entah karena sebab apa, terjadilah pertarungan antara Moh Kosim melawan salah satu jagoan kompeni. Dengan hanya satu kali gerakan saja , pecahlah kepala jagoan kompeni itu dihantam memakai lutut kaki.
Diceritakan selanjutnya sesampainya di Batavia, Moh kosim terlunta-lunta tak punya kegiatan dan pekerjaan berjalan tanpa arah dan tujuan mengikuti langkah kaki saja sehingga akhirnya sampailah di suatu tempat Desa Karang Tengah Cianjur.
Disanalah beliau ada yg memanggilnya, yaitu pemilik perkebunan / tuan tanah , R.H.Enoch untuk dipekerjakan sebagai centeng menjaga danau dan perkebunan kelapa.
Kemudian saat menjalankan tugasnya inilah terjadi lagi pertarungan berkali-kali antara pemuda minang ini melawan gerombolan perompak dan pengacau, yang selalu berakhir dengan tewasnya para perompak tersebut. Menjadi berita yg menggegerkan dilingkungan tersebut sehingga menjadi perhatian R.H.Enoch.
Memanglah dari sejak awal RH Enoch memanggil Moh Kosim, telah melihat ada sesuatu yang lain dari sikap tutur bahasa dan penampilannya. Dan peristiwa demi peristiwa yang terjadi di perkebunan telah memancing RH Enoh untuk menanyakan siapakah sebenarnya Moh Kosim.
Sehingga terbukalah jati diri seorang Pemuda Bangsawan Dari Pagaruyung.
Dan menurut keterangan selanjutnya, atas dasar inilah kemudian Moh Kosim diangkat mantu dinikahkan dengan puteri RH Enoh. Dan juga RH Enoh ikut mempelajari pentjak minang, serta Moh Kosim dijadikan sebagai guru pentjak untuk mengajarkan kepada sanak kerabat RH Enoh.
Mengenai postur tubuh perawakan Moh Kosim ialah dikatakan sebagai jangkung tinggi gede , tatapan mata dan pandangannya agung, berdada bidang tegap, dan tubuhnya kuat luar biasa. Adat tabiatnya sabar, sangat welas asih jika mengajar silat dan menghadapi murid-muridnya. Namun sangat teguh,tegas,dan sangat keras bila menghadapi bahaya dan menghadapi perusuh pengacau.
Dan dikatakan lagi sangat tinggi ilmu kebatinannya.
Bila melaksanakan pentjak tak pernah berlaku curang, jk berlaku demikian
Lagi pasti akan banyak yang celaka dan mati karena ulahnya.
Bila mengajarkan pentjak kepada murid2nya, berhubung keadaan fisik dan tenaganya yang sangat terlalu keras, maka beliau mengajarkannya secara lemes.
Karena kemasyhuran namanya inilah dikatakan menjadi sebab tertariknya Abang Kari dan Abang Mahdi serta Mbah Khaer untuk saling ber “Silaturrahmi”
Dalam artian saling “bersilat”. Dan ini kejadiannya diceritakan sangat tak masuk akal, ada yg mengatakan terjadilah pertarungan diantara sesama mereka selama 3 hari berturut-turut, bahkan ada yang mengatakan sampai 7 hari.
Dan kesudahannya, “tiada yang kalah dan tiada yang menang”.
Dan menjadi penyebab terjalinnya persahabatan persaudaraan yg erat diantara mereka.
SPESIFIKASI MANFAAT, FILOSOFIS, JURUS LIMA SYAHBANDAR.
Sebenarnya , masih banyak misteri yang melingkupi jurus lima Syahbandar.
Berikut ini adalah penjelasan sedikit2 dari hasil dialog kepada beberapa orang pendekar Syahbandar yang kemudian (mohon maaf) diramu berdasarkan pencerahan penulis pribadi yg didapat dari kemurahan Allah SWT.
Saya menghimbau kepada seluruh praktisi dan penerus syahbandar untuk menghayati jurus lima dalam latihannya, merenungkannya, mendiskusikannya, dan ikut mencari pemecahan misteri jurus lima Syahbandar. Mudah-mudahan hal tersebut akan menambah kemajuan bagi diri dan perguruan untuk pengamalan di masyarakat dan sambil terus menerus memohon ridho Allah.
Perlu diketahui bahwa saat ini di Jawa Barat saja banyak sekali para Pendekar Syahbandar yang hanya memakai jurus lima saja sebagai pegangannya dan juga pengajarannya. Bahkan, bila kita ingin dan kemudian minta diajarkan jurus lima tersebut akan sangat susah sekali mendapatkannya.
Bila kemudian telah didapat, kemudian belajar jurus2nya selanjutnya kita akan dibiarkan dalam kebingungan bagaimana cara untuk mempraktekannya dan memanfaatkannya dalam perkelahian. Atau bila dirasa sudah mendapatkan pencerahan akibat latihan dan praktek lapangan, dan sering kali timbul sesuatu berupa keanehan dan keajaiban. Kemudian terjadi pertentangan nurani, bagaimana kok bisa terjadi keanehan, apakah ada peran serta jin didalamnya ataukah memang hasil latihan tenaga murni manusia?,
Mungkin untuk sementara dapatlah diambil kesimpulan adalah bahwa semakin didalami
Jurus lima itu semakin kita merasakan banyaknya rahasia dan misteri yang terkandung didalamnya.
Oleh karena itu sebaiknya kita syukuri saja akan nikmat anugerah Allah ini, bila kita berhasil menemukan sekelumit manfaat dan pencerahannya, semoga dengan itu Allah SWT berkenan untuk membimbing kita dan memberikan ridhoNya kepada Jati Diri kita masing-masing.
JURUS KESATU SYAHBANDAR
Dikenal juga dengan istilah Keupeul, atau jurus Pancer. Maksudnya adalah jurus ini merupakan inti dari semua jurus. Jurus ini adalah jurs Isi Pengisian. Dari jurus inilah kemudian menjadi jalan bagi jurus yg lainnya. Dengan rumusan kata-katanya adalah Isi Satu salurkan Dua-Tiga-Empat-Lima. Atau Isi Satu salurkan Dua, tarik Tiga, liliwatan empat, angkat jatohan Lima.
Jurus Satu menjadi inspirasi jurus lainnya adalah demikian. Bila kita memohon kepada Allah SWT maka kita tengadahkan kedua tapak tangan keatas seperti berdo`a, saat itu rasakanlah kita mendapat suatu getaran yang kemudian kita ambil dengan menariknya perlahan posisi tapak tangan menjadi mengepal menuju kedada, dan turun sedikit kearah perut. Inilah yg disebut kejadian jurus satu dan pengisiannya. Pengisian getaran Ilahiah.
Dalam keterangan ma`rifat dijelaskan, jika memang sudah meresap maka jurus satu ini akan mampu menimbulkan bentuk lapisan hijab mencapai 11.000 hijab kedepan belakang kanan dan kiri (lebih kurang mencapai radius 220m)
Dan dari sinilah kemudian sering terjadi pencerahan2 fisik maupun batin, yg kemudian dalam prakteknya dibuktikan, hasil melatih focus jurus ini (minimal 100x ulangan)
Selama 7 hari berturut-turut, akan mampu untuk menjadi tahan pukul, tahan sakit, tahan tendangan,tahan bacokan.
JURUS KEDUA SYAHBANDAR
Jurus kedua ini terjadi dari akibat melaksanakan jurus Satu secara terus menerus rutin. Prosesnya demikian , bila kita terus menerus mengisi diri, maka diri kita akan penuh dengan getaran. Getaran ini akan luber dan mencari jalan untuk keluar/mengalir (mirip ya dengan porinsip Hukum Thermodinamika II). Proses penyaluran inilah yang menjadi jurus Kedua Syahbandar. Dan ini sangat sesuai dengan prinsip2 “Menerima maka berakibat akan memberi” atau “Memberi maka berakibat akan menerima”.
Apa-apa yang kita dapatkan maka kita amalkan, apa-apa yg kita terima ada diantara bagian itu yg harus disedekahkan. Jadi hidup kita ini jangan menjadi orang yg menerima saja, tapi harus juga memberi.
Jurus kedua ini juga merupakan sikap mental Tauhid, yaitu dari sikap meolak kemungkaran, kejahatan, dll.
JURUS KETIGA SYAHBANDAR
Jurus ketiga ini terjadi seperti pada prinsip yg telah diterangkan pada jurus kedua yaitu bahwa bila kita memberi maka berakibat kita akan menerima atau menarik imbalannya. Karena kita juga butuh penerimaan.
Namun jurus ketiga ini dalam praktek dapat disebutkan sebagai pancingan
Sebagai jurus yg menyembunyikan jurus yg lain/ yg disembunyikan keluarnya
Dan dapat menjadi jurus eksekusi.
JURUS KEEMPAT SYAHBANDAR
Jurus ini dikenal sebagai liliwatan. Inilah dalam aplikasi beladiri yg paling banyak dikembangkan dan digabungkan kepada Kari dan Mahdi.
Keunikan jurus ini ialah dalam prakteknya mampu untuk manipulasi tenaga lawan bukan dengan tenaga kita, melainkan dengan tenaga lawan itu sendiri melalui prinsip meliwatkan. Dan menimbulkan ketidakseimbangan pada gerakan lawan.
Terjadinya jurus empat ini adalah akibat dari gerakan2 tarik tolak-tolak tarik,
Menimbulkan perputaran energi atau gerakan2 memutar/melingkar/rotasi.
JURUS KELIMA SYAHBANDAR
Jurus ini dinamakan juga dengan istilah angkat junjung. Terjadinya jurus ini bisa dilihat dari fenomena daya liliwatan/perputaran. Untuk gerak rotasi itu terbagi dua. Seperti pada sentrifugal dan sentripetal. Maksudnya akibat dari gerakan putar menyebabkan arah perputaran naik keatas(layaknya angin puting beliung). Atau gerakan putar yang menjatuhkan/menarik kebawah (layaknya pusaran air).
Pada gerakan yang kelima inilah kemudian diambil maknya akan filosofi peningkata iman dan taqwa dan bukannya peningkatan keatas menjadi sombong, angkatlah derajat, martabat diri dan orang lain.
Jurus kelima menjadi makna pujian, jika kita mengangkat-angkat (memuji) orang, yang berakibat oramg itu jadi sombong, mk akan dimakan oleh siapa saja yang tak akan tahan melihat kesombongannya. Inilah makna jurus kelima untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yg zholim.
KLASIFIKASI,PENERANGAN,TARGET,&PERKEMBANGAN JURUS LIMA
1.Jurus Syahbandar
-Jurus Tunggal:
-Jurus tunggal Pancer (yaitu jurus 1)
-Jurus tunggal tolak (yaitu jurus 2,4,5)
-jurus tunggal tarik (yaitu jurus 3)
-Jurus Gabungan:
-Gabungan lima inti
-Gabungan lima inti acak
-Syahbandar Kari Mahdi Keras (17 jurus)
-Syahbandar Kari Mahdi Halus (21, 22, 25, jurus)
-Tangtung Alif
-Jurus Rasa:
-Gerak Rasa Sejati
-Silat Sejati
-Gerak Hadiran
-Gerak Ma`rifat
2.Variasi Langkah Kaki:
-Langkah hentak (sisi luar telapak)
-langkat sered gusur
-langkah seret C
-langkah seret hentak
-langkah kesot
3.Pernafasan:
-nafas tahan pada perut (prinsip Hu-Allah)
-nafas tahan pada dada dan perut
-nafas tolak pada dada dan perut
-tembakan sanalika
4.Inti Kekuatan / Tenaga
Sangat diyakini oleh para praktisi dan guru Syahbandar bahwa manusia itu kelemahannya pada perut, tetapi justeru kelebihan/kekuatan tenaga juga terdapat dari perut.
5.Etika Syahbandar
Ilmu Syahbandar diajarkan melalui proses ikatan bathiniah antara guru dan murid.
Tidak bisa dipelajari sendiri tanpa petunjuk guru, kecuali mendapat Wisik langsung
Dari Allah SWT, melalui Ruhaniah Guru2 terdahulu..
Para praktisi Syahbandar sejati tidak akan pernah berniat untuk secara sengaja merusak dan membunuh lawan. Tetapi berusaha untuk mengikuti ajaran luhur Syahbandar yaitu
“Menjatuhkan lawan untuk menyadarkannya”.
Oleh karena itu jika terpaksa akhirnya terjadi kerusakan dan kematian, maka kembalikanlah kesadaran prinsip kepada Surah Al Anfal:17
Yang artinya:
“Dan sekali-kali bukanlah engkau yang membunuh tetapi Akulah Allah yang membunuh, dan sekali-kali bukanlah engkau yang melontar tetapi Akulah Allah yg melontarnya.”
Dan kita harus meyakini bahwa tenaga dalam/tenaga batin itu adalah dari Allah, milik Allah, dan untuk jalan Allah.
Apa-apa yang kita lakukan dalam rangka memperoleh, memanfaatkan, dan merawat tenaga dalam itu hanyalah sekedar syareat saja, hakikatnya adalah kembali kepada Allah saja.
Seorang murid jika telah dirasa cukup pelajaran jurus2nya, maka akan mendapatkan restu dari guru yaitu berupa “pengisian” (pembangkitan Rasa) melalui do`a2, atau langsung antara guru dan murid melakukan “jual-beli” (jajal rasa) dan ririungan selamatan
Setelah sebelumnya itu disarankan kepada murid untuk berpuasa sunnah lillahi ta`ala.
6.Zikir
Aurod Rahasia
Yaitu bacaan dalam bentuk Ayat dan Mantera, yg isinya menyangkut inti rahasia gerak
Dan jalannya tenaga khas Syahbandar
Zikir Bergerak,
zikir bergerak ialah bacaan asma` yg dibaca dalam hati tatkala melaksanakan jurus;
- Zikir Asmak Lima
- Zikir Khofi
- Zikir Nafi Itsbat
- Zikir Ismuz Zat
- Zikir Khos Sirri
7.Target Syahbandar
Target Fisik:
Menguasai dan mendapatkan Sanalika, sesuai pemahaman dan kondisi masing-masing.
Target Batin:
Penguasaan Rasa dan Tangtungan Alif
Jati Diri:
Menemukan bentuk geraknya dan jalannya diri sejati dalam rangka pengamalan untuk mendapatkan ridho Allah semata.
8.Sasaran tembakan Syahbandar
Sasaran khusus:
- rangkai jantung, – rangkai limpa, -rangkai hati
Sasaran umum:
- Paru2 kanan dan kiri
- Pangkal paha kanan dan kiri
- Urat leher kanan dan kiri
- Lekuk tenggorokan
- Pangkal lengan kanan dan kiri
- Puser
- Siku lengan kanan dan kiri
- Ulu hati
- Daerah persendian/sambungan tulang pada seluruh tubuh
- Bebas , dimana saja yg terkena.
9.Jual-beli / ban-banan Syahbandar
Ban-banan Fisik:
- saling mengadu dengan menggunakan jurus syahbandar, namun masih bersifat kelit atau menjatuhkan lawan dengan memanipulasi tenaga lawan itu sendiri.
- Mampu menjatuhkan lawan dengan sedikit gerakan disertai kepekaan rasa
- Mampu memukul hanya dengan jarak sejengkal.
- Mampu memukul walaupun dalam keadaan menempel dan tanpa jarak lagi.
- Jual beli dengan menggunakan tenaga dalam/tenaga batin
Ban-banan Batin (ilmu senteran bathin)
Menggunakan jurus hanya dalam hati, menjatuhkan lawan cukup dengan menyenter jalur-jalur jalannya tenaga pada tubuh, baik dengan menggunakan isyarat tangan atau cukup dalam bayangan (ma`rifat)., dilakukan baik berhadapan maupun secara tidak berhadapan langsung (jarak jauh).
( penulis : ki sawung )
Sumber : http://anggaz.wordpress.com



READMORE
 

Seni Bela Diri


Seni bela diri merupakan satu kesenian yang timbul sebagai satu cara seseorang itu mempertahankan diri. Seni bela diri telah lama ada dan pada mulanya ia berkembang di medan pertempuran sebelum secara perlahan-lahan apabila peperangan telah berkurang dan penggunaan senjata moden mulai digunakan secara berleluasa, seni bela diri mulai berkembang dikalangan mereka yang bukannya anggota tentara tetapi merupakan orang awam.
Boleh dikatakan seni bela diri terdapat di mana-mana di dunia ini dan hampir setiap negara mempunyai seni bela diri yang berkembang secara lokal atau diubah sesuai  seni bela diri luar yang meresap masuk. Sebagai contoh seni Silat adalah seni bela diri yang berkembang di negara ASEAN dan terdapat di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei.
Bagaimanapun kemudahan perhubungan dan komunikasi yang ada pada masa kini memudahkan perkembangan ide ke arah yang lebih sempurna dan seni bela diri tidak lagi berada di tanah asalnya tetapi telah berkembang keseluruh dunia.

Jenis-jenis

Seni bela diri juga terbagi beberapa jenis seni tempur bersenjata tajam, senjata tidak tajam seperti kayu, dan seni tempur tangan kosong. Di antara jenis-jenis seni bela diri yang ada adalah seperti berikut:
  1. Aikido
  2. Capoeira
  3. Gulat
  4. Hapkido
  5. Jiu Jitsu
  6. Jogo do pau
  7. Judo
  8. Kalaripayat
  9. Karate
  10. Kempo
  11. Kendo
  12. Kung fu
  13. Muay Thai
  14. NEST[rujukan?]
  15. Silambam
  16. Silat
  17. Taekwondo
  18. Taido
  19. Tinju
  20. Tomoi
  21. Tongkat Master Mix Martial Arts (Beladiri Campuran)
  22. Wing Tsun
  23. Wun-hup-kuen-do
  24. Wushu
  25. Thifan
  26. Tarung Derajat AA-BOXER
  27. Ninjutsu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
READMORE
 

WATCH

Para Pesilat telah menyumbangkan kreasinya demi lestarinya Budaya Pencak Silat di dunia.
Mari jadikan mereka pemotivasi kita untuk berjuang dengan semangat dan terus tanpa lelah menyebarkan budaya bangsa ke semua tempat di dunia.

Silahkan klik!

READMORE
 

Riwayat Singkat Pencak Silat Cikalong


Bermula dari nama desa Cikalong Kabupaten Cianjur pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya "Maempo Cikalong". Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.
Cikal bakal permainan maempo (maen pohok) ini diajarkan oleh keluarga bangsawan Cikalong yang bernama Rd.H.Ibrahim dilahirkan di Cikalong 1816 dan wafat 1906 dimakamkan didesa Majalaya Cikalong Cianjur.
Sebelum menunaikan ibadah haji beliau bernama Rd. Djajaperbata yang memiliki ciri-ciri, bertubuh pendek, berbadan lebar, kekar, tangannya lancip, keningnya tidak lebar, berwatak keras dan pemberani. Jika berlatih/menghadapi lawan selalu waspada dan lebih suka menggunakan teknik bertahan. Teknik serangan yang digunakan selalu diawali dengan hindaran lalu dilanjutkan serangan beruntun tangan dan kaki. Beliau tidak saja mahir bermain dengan tangan kosong, melainkan juga dengan senjata gobang menjadi favoritnya. Permainan maempo dalam hidupnya sudah menjadi darah daging yang sukar dipisahkan. Kehebatan dan kemahiran bermain maempo Rd.H.Ibrahim banyak diceriterakan oleh penduduk tempatan secara ketuktular, salah satu diantaranya:
Konon ketika Rd.H.Ibrahim mengikuti Dalem Prawiradiredja yang lebih dikenal sebagai Dalem Marhum (wafat 1912) pergi berburu menjangan di Kecamatan Palumbon, sekarang daerah Kecamatan Mande.
Tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan penduduk, memberitahukan ada seekor harimau besar di pinggir kali kecil yang sedang meraung.
Dalem Marhum bercanda sembari ngeledek; ucapnya dia bukan pendekar jikalau belum bisa mengalahkan harimau.
Mendengar ejekan Dalem Marhum, Rd.H.Ibrahim telinganya terasa terbakar, diambilnya gobang kesayangan "Salam Nunggal" yang gagangnya terbuat dari gading gajah.
Sembari berteriak aku buktikan ucapnya, beliau melangkah tenang dan meyakinkan pergi diantar penduduk ke lokasi harimau. Disaksikan banyak mata pertarungan dengan harimau ditepi kali berjalan dengan seru. Rd.H.Ibrahim mendekati, harimau merasa terdesak dan menerkam dengan buasnya. Sekali hindar dilanjutkan babatan gobang, mengenai pelipis harimau jatuh tersungkur mati ditempat. Beliau mengatakan ini pengalaman pertama dalam hidupnya, perkelaian yang mempertaruhkan hidup mati. Ucapan selamat sebagai pendekar dari Dalem Marhum penuh kekaguman, sedangkan masyarakat menceriterakan sebagai kejadian yang menakjubkan.
Keperkasaan, kesaktian sebagi pendekar Cikalong Rd.H.Ibrahim yang sampai kini melekat dihati masyarakat pencak silat di Jawa Barat. Keberhasilan diri menjadi pendekar besar yang tersohor berkat dorongan dan tempaan dari beberapa pendekar di Batavia.
Guru pertama adalah Rd.Ateng Alimudin (kakak misan) yang memperistri kakak perempuannya yaitu Nji Rd.Siti Hadijah.
Rd.Ateng Alimudin pendekar besar dari Kampung Baru Djatinegara Di Kampung Baru Rd.H.Ibrahim berlatih dasar-dasar pencak silat hingga menguasai seluruh jurus permainan Rd.Ateng Alimudin. Kecuali berlatih pencak silat beliau diajar berdagang kuda bekas milik kompeni untuk diperjualbelikan di Cianjur.
Dorongan hati untuk menguasai dan mau lebih tahu tentang pencak silat di sokong oleh kakak misannya.
Rd.Ateng Alimudin membawanya ke Kampung Karet, Tanah Abang dan memperkenalkan ke Abang Ma'rup. Permintaanya untuk mempelajari pencak silat di kabulkan, beliau dengan semangat dan tekun mempelajari permaian Abang Ma'rup. Dasar yang kuat memperpendek masa berguru untuk menguasai jurus-jurus yang diajarkan.
Kecerdasan dan ketangkasan menguasai berbagai jurus pencak silat yang baru diajarkan sangat menajubkan.(beliau mengangkat sebagai guru kedua)
Menurut keterangan ayahnya Rd.Radjadidiredja, Abang Ma'rup adalah pendekar tersohor di Batavia karena namanya yang tersohor banyak orang berdatangan dari udik ingin belajar pencak silat.
Ciri-cirinya berbadan pendek bulat kekar, permainan sangat licin sulit disentuh lawannya, jurus serangannya sering membuat lawan terpedaya.
Rd.H.Ibrahim yang bekerja sebagai pedagang kuda suatu hari membeli kuda Europa yang binal di Batavia, kuda yang baru dibeli harus diganti tapal baru, namun pande kuda tidak ada yang berani memasangnya. Menurut petunjuk beberapa orang, yang berani hanya Bang Madi di Kampung Gang Tengah.
Kuda binal itu dibawanya, Bang Madi menerima dengan senang hati atas bekerjaan yang diberikan. Dengan seribu pengalaman Abang Madi dengan tenang membuka tapal yang sudah usang dan menggantinya dengan yang baru. Ketika hendak memaku tapal tiba-tiba kuda binal itu menendang, dengan gerakan secepat kilat tendangan kaki kuda ditangkis lalu patah kaki kuda itu.
Kejadian itu terjadi didepan mata Rd.H.Ibrahim, beliau memandang peristiwa ini sangat menakjubkan.
Rd.H.Ibrahim memandangi posteur tubuh pendek dan lebar dengan perawakan muka yang sabar dan selalu merendahkan diri tak nampak sebagai pendekar pencak silat. Usut ke usut Bang Madi adalah pendekar pencak silat yang tangguh, atas seizinnya Rd.H.Ibrahim mengangkat Abang Madi sebagai gurunya yang ketiga.
Tawaran Rd.H.Ibrahim untuk memboyong Abang Madi ke Cikalong diterima, beliau mempelajari jurus-jurus permainan Abang Madi sampai mahir.
Mengikuti anjuran guru pertama dan ketiga agar Rd.H.Ibrahim menemuhi Abang Kari, pendekar tersohor yang tinggal di desa Benteng Tangerang.
Pertemuan Rd.H.Ibrahim dengan Abang Kari di Benteng diterima dengan tangan terbuka, saat itu diungkapkan niatnya untuk berguru pencak silat. Setelah tahu kedatangan Rd.H.Ibrahim untuk menuntut ilmu, Abang Kari memberi nasehat dan penjelasan tentang ilmu pencak silat bukan untuk ria, takabur atau menyakiti dan mencelakakan orang lain.
Pernyataan kesanggupan dan setia mengikuti aturan yang diberikan, Abang Kari menerima Rd.h.Ibrahim sebagai muridnya.
Diawali melakukan puasa di hari Kemis selama sehari suntuk, yang ditutup pada malam harinya. .
Bentuk upacara yang dilakukan, sesudah mandi bersih duduk bersila di atas kain kafan menghadap ke kiblat, satu sama lain saling berjabatan tangan berjanji. Rd.H.Ibrahim bersumpah setia siap menjalankan perintah dan menghindari larangan yang diajarkan oleh ajaran agama Islam dan gurunya.
Setelah usai upacara ritual, beliau mendapat pelajaran jurus permainan Abang Kari. Tepat usia 40 tahun Rd.H.Ibrahim dapat menyelesaikan ajaran pencak silat Abang Kari, namun yang dirasakan dirinya belum cukup sebagai pendekar. Keinginnya untuk menuntut ilmu kepada pendekar-pendekar besar tak pernah kunjung padam. Rasa hormat kepada gurunya tetap menjadi sandaran hidupnya dan menyatakan Abang Kari yang berpawakan tinggi besar dan dikeningnya terdapat urat yang besar, memiliki permainan serangan kaki dan tangan yang keras serta beruntun sebagai gurunya yang ke empat. Usai pengembaran menuntut ilmu pencak silat di Batavia, beliau kembali ke Cikalong.
Disela-sela waktu luangnya Rd.H. Ibrahim memadukan seluruh permainan yang dikuasai dan mengajarkan kepandaiannya kepada keluarga terdekat, murid pertama yaitu Rd. Sirot Pasar Baru Cianjur dan Rd.H. Enoh De Hoofd Pengulu Cianjur. Pada saat itu ilmu pencak silat di Jawa Barat merupakan ilmu beladiri yang dirahasiakan dan tidak mudah didapat oleh kalangan masyarakat awam. Tidak aneh rasanya jika pencak silat Cikalong hanya berkembang dikalangan keluarga bangsawan di Cikalong.
Murid-murid Rd.H.Ibrahim semakin hari semakin banyak dan mahir memainkannya. Pencak silat tumbuh terus berkembang bagaikan barang hidup seperti bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan tempat dan waktu sesuai tuntutan zamannya. Pencak silat yang dipelajari dari keempat gurunya di Batavia dan Tangerang pada dasarnya tidak mengenal musik pengiring. Didaerah Cianjur yang terkenal sebagai pusat kebudayaan Sunda, beralkuturasi dengan kebudayaan setempat.
Bentuk olahan baru pencak silat Cikalong disajikan sebagai ibing penca yang diiringi musik khusus gendang penca. Ibing penca Cikalong semakin hari banyak digemari dan terus meningkat peminatnya. Dihari perayaan hitanan atau pesta tertentu ibing penca diperagakan sebagai tontonan untuk umum. Semakin banyak penduduk mengenal keindahan gerakan permainan ibing penca yang berasal dari Cikalong dan penduduk daerah lain memberikan sebutan " Penca Cikalong". Berkat pengembangan dan perluasan perkebunan di zaman kolonial Belanda ke Jawa Timur, aliran pencak silat Cikalong terbawa oleh pekerja perkebunan yang kebayakan berasal dari daerah Jawa Barat .
By : O'ong Maryono
Sumber:
- Aliran-aliran pokok Pencak silat Jawa Barat
Dept.P&K Jakarta 1877-1978
- Sadjarah Kaboedajan Pentja
Pengharepan Bandoeng 1938
- Holidin sesepuh Panglipur
Bandung 16 Februari 1994
- Gending Raspuzi pengamat pencak silat
Bandung 12 Februari 1995
- Rd.Adang Djohar sesepuk pencak silat Cikalong
Sukabumi 7 Februari 1994
READMORE